SPOILER ALERT!


SPOILER ALERT!
Bila Anda serius ingin membaca buku-buku yang saya bahas di bawah ini dan tak ingin ceritanya Anda ketahui sebelum membaca bukunya, sebaiknya Anda meninggalkan website ini dan mengunjunginya kembali setelah selesai membaca. Terima kasih.

Kamis, 02 Agustus 2012

Arok Dedes - Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer diasingkan di Pulau Buru, Maluku, selama 10 tahun, dari 1969 sampai 1979. Disana dia tetap menulis dan menulis, karena menurut dia, itulah tanggung jawab dia sebagai orang Indonesia. Dia menulis tanpa sepengetahuan petugas, karena apabila ketahuan, pasti akan dimusnahkan. Segala macam sarana menulis dia gunakan seadanya, bahkan selembar kertas bekas pun jadi.

Selama 10 tahun di Pulau Buru itu dia menelurkan tetralogi yang sangat mahsyur, yaitu Tetralogi Bumi Manusia, terdiri dari roman Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Tapi tak banyak orang tahu bahwa dia juga membuat tetralogi yang lain, tetralogi sejarah bangsa ini pada abad pertengahan, yang juga merupakan karya besar. Tetralogi itu terdiri dari roman Arok Dedes, Mata Pusaran, Arus Balik, dan Mangir. Mata Pusaran sudah hilang dirampas oleh petugas dan kemungkinan tidak akan ditemukan lagi selama-lamanya. Ini adalah kehilangan yang cukup besar akan karya dari seorang maestro, atas nama stabilitas politik.

Tidak seperti buku Pramoedya yang lain yang selalu dilarang terbit oleh Jaksa Agung, Arok Dedes terbit pertama kali tahun 1999, setelah orde baru runtuh. Jadi buku ini tidak banyak menimbulkan kontroversi karena pelarangannya itu sendiri. Harus diakui, semakin buku itu dilarang, semakin penasaran orang dibuatnya.

Arok Dedes adalah penulisan sejarah yang dibalut novel. Sejak kecil, saya telah dikenalkan kepada cerita tentang Ken Arok yang sama sekali transendental dan penuh mitos. Penulisan sejarah tentang Ken Arok maupun Kerajaan Singasari yang bahkan kemungkinan sama sekali bias, malah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sejarah bangsa ini.

Saya tumbuh dengan cerita-cerita tersebut, karena memang awal mula Kerajaan Singasari tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Diceritakan dalam cerita rakyat yang saya dengar sejak kecil, bahwa Ken Arok adalah anak dari hubungan gelap antara Dewa Brahma dan seorang perempuan desa. Oleh ibunya yang tidak menghendaki kelahirannya, Ken Arok dibuang, dan kemudian dipelihara oleh seorang penjudi yang bernama Bango Samparan. Ken Arok akhirnya menjadi perampok  yang ditakuti di wilayah kerajaan Kediri. Ken Arok kemudian bertemu dengan seorang brahmana bernama Lohgawe yang kemudian menjadi gurunya.

Lohgawe kemudian mengatur Arok agar menjadi prajurit di Pekuwuan (setara dengan Kecamatan) Tumapel yang dipimpin oleh Tunggul Ametung. Arok tertarik dengan istri Tunggul Ametung, Ken Dedes yang cantik, yang diramalkan oleh Lohgawe akan melahirkan keturunan raja-raja di Jawa. Arok meminta bantuan Mpu Gandring, seorang pembuat keris, untuk dibuatkan keris pusaka yang akan dipakainya membunuh Tunggul Ametung kelak. Karena tidak sabar kerisnya belum selesai juga, Arok marah kepada Mpu Gandring dan kemudian membunuhnya dengan keris yang setengah jadi. Sebelum mati, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu juga akan membunuh Ken Arok dan tujuh keturunannya.

Setelah mendapatkan keris tersebut, Ken Arok mulai menjalankan rencananya menggulingkan Tunggul Ametung. Pertama-tama, dia meminjamkan keris pusakanya ke Kebo Ijo, sesama prajurit Tumapel. Kebo Ijo memamerkan keris pusaka itu di seluruh Tumapel, sehingga semua orang mengenal keris itu sebagai milik Kebo Ijo. Suatu malam, Ken Arok mengambil keris itu dan menusuk Tunggul Ametung di kamar tidurnya. Akhirnya Kebo Ijo dipersalahkan atas kematian Tunggul Ametung dan Ken Arok menjadi Akuwu baru. Ken Arok pun menikahi Ken Dedes, meskipun dia sedang hamil anak Tungul Ametung. Setelah berkuasa, Ken Arok menyerang Kerajaan Kediri dan mendirikan Kerajaan Tumapel, yang kemudian berubah nama menjadi Singasari. Kelak Ken Arok akhirnya tewas dibunuh anak tirinya, Anusapati, dengan keris Mpu Gandring itu sendiri.

Begitulah cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Cerita tersebut sangat berbau fantasi layaknya roman silat. Akan tetapi, keberadaan Ken Arok dalam sejarah kemungkinan besar memang benar, karena dialah yang telah meletakkan dasar pendirian kerajaan Singasari yang pernah berjaya dan runtuhnya kerajaan Kediri yang pernah sangat berkuasa.

Namun Pramoedya memakai pendekatan lain. Dia menulis novel Arok Dedes dengan mengambil jarak terhadap mitologi dan fantasi dari cerita rakyat. Arok Dedes ditulisnya sebagai sebuah roman politik Jawa abad pertengahan, yang berkisah mengenai kudeta.

Arok, diceritakan oleh Pram, adalah seorang yang cerdas, kuat, dan pemberani dari kasta sudra yang tak jelas keturunannya, yang kemudian menjadi Brahmana setelah ditasbihkan oleh Lohgawe. Lohgawe yang merupakan Brahmana Syiwa, telah lama tidak puas dengan berkuasanya wangsa (dinasti) Isana (terutama kerajaan Kediri) yang beragama Hindu Wisnu. Arok yang senang merampok prajurit Kediri dan Tumapel, disiapkan oleh Lohgawe untuk menjadi penguasa baru menggantikan Wangsa Isana agar bisa memuliakan kembali Dewa Syiwa. Strategi pertama yang disiapkan adalah kudeta terhadap Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel sebagai daerah jajahan Kediri.

Tunggul Ametung dibenci oleh para brahmana selain karena dia Wisnu yang tak berpendidikan, juga karea dia telah menculik Dedes, anak Mpu Parwa, begawan Syiwa yang sangat berpengaruh, untuk dijadikan istrinya. Tunggul Ametung makin hari makin geram, karena banyak kawanan pemberontak dan perampok menyerang pasukannya. Kawanan perampok yang bergerilya tersebut adalah anak buah Arok yang ditugaskan untuk mengacaukan stabilitas Tumapel.

Lohgawe sebagai seorang brahmana berpengaruh, menganjurkan Tunggul Ametung agar menerima Arok sebagai prajurit yang akan meredam kerusuhan dari para pemberontak. Tunggul Ametung walaupun curiga akan keyakinannya yang Syiwa, tidak menyadari bahwa Arok adalah otak dibalik segala kerusuhan tersebut. Dedes pun dibuat terpesona oleh pengetahuan Arok akan ilmu dan bahasa. Lama kelamaan, pasukan Arok semakin berkuasa di Tumapel, dan Arok menjadi sangat berpengaruh dalam kotapraja Tumapel.

Semakin berpengaruh dalam pemerintahan, Arok semakin sadar bahwa bukan hanya dia seorang yang mempunyai rencana untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Ada Empu Gandring, ahli senjata, yang menyusupkan pengaruhnya dalam pasukan Tumapel untuk melakukan kudeta. Ada pula Yang Suci Belakangka, pendeta yang merupakan wakil resmi dari Kediri di Tumapel, yang menjagokan seorang tamtama bernama Kebo Ijo, untuk menggantikan Tunggul Ametung apabila sudah digulingkan.

Arok mengatur taktik dan strategi untuk melenyapkan mereka, sekaligus melenyapkan Tunggul Ametung tanpa secara frontal melakukannya sendiri. Dengan dibantu Dedes, Arok dapat melenyapkan Empu Gandring dan memecah belah pasukannya. Dia juga menangkap Yang Suci Belakangka. Kebo Ijo pun masuk perangkap Arok dan akhirnya dianggap sebagai tersangka utama yang membunuh Tunggul Ametung ketika tidur. Arok diangkat oleh Lohgawe sebagai Akuwu Tumapel yang baru setelah Tunggul Ametung tewas.

Membaca Arok Dedes, tidak bisa tidak saya langsung terbayang skenario Indonesia tahun 1965, dimana keadaan genting negara ini saat itu sangat menentukan perkembangan bangsa ini hingga masa mendatang. Saat itu Indonesia yang dipimpin Soekarno, marak akan kerusuhan dan pamer kekuatan. Ada banyak pihak yang diam-diam ingin menggulingkan Soekarno, baik luar maupun dalam negeri. Ada banyak pihak yang menunjukkan kekuatannya, baik kalangan komunis maupun kalangan agama. Ada juga pihak yang menyusun strategi agar bisa berkuasa tanpa terlihat seperti pihak yang menodongkan senjata untuk melakukan kudeta.

Mungkin kesamaan ini tidak disengaja. Justru disinilah pentingnya karya Arok Dedes. Dia bisa menjadi aktual pada segala jaman dan tatanan politik. Seolah roman ini adalah sebuah panduan praktis untuk melakukan kudeta. Ada agitasi, propaganda, dukungan logistik, pertautan kepentingan politik, permainan opini publik, dan spionase yang dibutuhkan untuk sebuah kudeta yang sukses. Itulah kenapa Arok Dedes sukses sebagai sebuah roman politik.

Sebagai sebuah roman sejarah, Pramoedya menunjukkan kelasnya. Memang Ken Arok dan Tunggul Ametung hanya muncul dalam kitab Pararaton, yang diperkirakan terbit pertama kali pada abad 13, yang sangat penuh mitologi dan fantasi. Akan tetapi Ken Arok sangat besar kemungkinan ada dalam sejarah, mungkin dengan nama yang lain. Jejak peradaban yang dibangun Ken Arok atau siapapun namanya, terbentang luas sampai berdirinya Majapahit. Ken Arok lebih dekat kepada fakta daripada tokoh-tokoh seperti Angling Darma atau Damar Wulan yang hanya merupakan mitologi Jawa dan murni fiksi.

Kekuatan historis dalam novel ini pun layak dibanggakan, dimana Pram secara fasih menggambarkan silsilah Wangsa Isana, juga menggambarkan sejarah Mataram dan Bali. Dalam suatu kesempatan, Pram bercerita mengenai seorang Empu Sedah, seorang jenius otodidak yang menulis Bharata Yudha yang agung, hanya untuk kemudian dihukum pancung oleh Raja Jayabaya pada usia 25 tahun. Atau dalam kesempatan lain Pram bercerita mengenai sejarah pemisahan negeri Kediri menjadi Daha dan Jenggala karena konflik antara dua keturunan Airlangga yang saling memusuhi. Kerangka waktu, fakta geografis, dan penokohan dalam sejarah diceritakannya dengan keakuratan yang cukup mencengangkan.

Harus diingat, Pram menulis roman sejarah ini di Pulau Buru nan terpencil, tanpa alat tulis yang layak, tanpa perpustakaan, pun tanpa Internet yang kala itu belum sepopuler sekarang. Saat itupun Pramoedya masih berstatus seorang tahanan, tidak seperti penulis bebas yang mempunyai segala hak untuk berekspresi. Dia ternyata hapal sejarah Nusantara di luar kepala. Bukan hanya itu, dia juga hapal latar belakang sosial dan politik yang mendasari terbentuknya sejarah tersebut.

Dalam menulis novel sejarah ini, Pramoedya menolak pendekatan mistis yang dipakai dalam penulisan tradisional Jawa, yang bahkan juga telah masuk dalam kurikulum pendidikan sejarah nusantara di sekolah-sekolah. Ketika saya SD, saya diajarkan di kelas mengenai kutukan keris Empu Gandring selama 7 turunan. Saya juga diajarkan mengenai Ken Dedes yang memiliki mata kaki yang bersinar yang menyilaukan pandangan Ken Arok. Pram menolak semua itu, dan mengajukan hipotesis yang meskipun sama-sama kabur faktanya, lebih logis dan mudah diterima akal sehat. Jadilah Arok Dedes menjadi roman politik berlandaskan sejarah, bukan hanya dongeng rakyat menjelang tidur.

Apa yang dilakukan Pramoedya menurut saya bukanlah revisionisme. Apa yang mau direvisi apabila sejarahnya sendiri kabur? Pram justru meletakkan dasar baru untuk historiografi. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah oleh sejarawan, mengingat tokoh-tokoh dalam buku ini tidak memiliki nama asli, seperti Tunggul Ametung, Ken Arok, Lohgawe, dan lain-lain.

Mengingat ini sebuah novel politik, Pramoedya tetap mempertahankan wilayah abu-abu untuk interpretasi. Dalam politik, tidak ada baik ataupun buruk, hitam ataupun putih. Dalam politik hanya dikenal yang kalah dan yang menang. Apakah Arok seorang pahlawan, ataukah dia seorang pembunuh berdarah dingin? Apakah Arok orang yang licik, atau dia orang yang bijak? Jawabannya bisa dua-duanya. Arok adalah perampok sekaligus brahmana yang tekun belajar agama. Arok adalah pejuang sekaligus penjahat perang. Arok adalah gabungan antara kasta Sudra, Satria, dan Brahmana sekaligus. Arok adalah seorang Buddha, pemuja Syiwa, juga pemuja Wisnu sekaligus. Arok, seperti pemenang lain dalam sejarah, adalah sebuah kontroversi. Dalam buku ini, Arok adalah pemenang, tapi suatu saat dia akan menjadi pecundang. Saat itulah ketika sejarah berbalik membencinya.

Sejarah adalah milik para pemenang. Apa yang kita ketahui dari seorang tokoh sejarah, tetaplah abu-abu. Napoleon kita kenal sebagai seorang megalomaniak, toh jutaan orang tertentu masih memujanya sebagai pahlawan? Apa yang kita ketahui tentang Soekarno, apakah dia seorang  pembebas ataukah seorang despot? Banyak orang mencintai Soekarno sampai mati, banyak pula yang justru ingin menggulingkan dan membunuhnya. Apakah Soeharto pahlawan pembangunan, ataukah seorang pelanggar berat hak asasi manusia? Jutaan orang menggulingkannya dari tahta tahun 1998, tapi sampai saat ini pun masih ada yang memasang fotonya dengan penuh kerinduan. Dunia tidak melulu dipenuhi oleh protagonis dan antagonis. Karena kalau begitu, sudah sejak dahulu kala bumi ini terbelah menjadi dua.

Senin, 19 September 2011

Chocolat - Joanne Harris

Saya sudah menonton film Chocolat 11 tahun yang lalu, baru kali ini saya sempat membaca bukunya. Ternyata ada perbedaan mendasar antara buku dan adaptasi filmnya. Pendekatan yang dipakai di film adalah komedi, sedangkan narasi asli dalam bukunya lebih suram.

Tokoh utama Vianne Rocher dalam film digambarkan sebagai karakter yang misterius dan sedikit mistis, dengan diceritakan sebagai keturunan orang Indian Amerika Selatan yang mempunyai rahasia kuno, sedangkan dalam buku digambarkan lebih manusiawi, sebagai seorang wanita Prancis yang memiliki latar belakang psikologi yang kompleks. Nama toko coklat yang dibukanya pun berbeda, di film bernama La Chocolaterie Maya, sedangkan di buku bernama La Celeste Praline. Tapi baik di film maupun di bukunya, keduanya membahas detail tentang hal yang sangat saya sukai: coklat.

Sejujurnya saya lebih menikmati filmnya daripada bukunya, tapi tidak bisa saya pungkiri Joanne Harris memiliki prosa yang luar biasa. Gaya bercerita Harris sangat menyenangkan untuk dibaca, membuat saya terpaku di depan bukunya tanpa kenal waktu.

Buku ini bercerita mengenai pengembaraan seorang wanita bernama Vianne Rocher dan anak perempuannya bernama Anouk yang memiliki sesosok teman imajiner. Mereka memutuskan untuk tinggal di sebuah desa kecil bernama Lansquenet-sous-Tannes, dimana penduduknya sangat taat beragama karena dipengaruhi oleh sebuah gereja katolik pimpinan pendeta Francis Reynaud.

Vianne Rocher piawai dalam mengolah coklat menjadi makanan, permen, dan minuman yang lezat tiada tara. Karena itu di Lansquenet-sous-Tannes dia mendirikan sebuah toko coklat bernama La Celeste Praline, tepat di depan gereja. Masa itu adalah masa menjelang paskah, dimana penganut Katolik dianjurkan untuk berpuasa dan menahan keinginan duniawi. Pendirian toko coklat ini membuat murka pendeta Francis Reynaud yang kemudian menganjurkan pengikutnya dan kelompok injil kota itu untuk berusaha sekuat tenaga menolak kehadiran Vianne Rocher di kota itu.

Kelompok injil dengan aktivis taat yang bernama Caroline Clairmont menolak kehadiran toko coklat itu dan berusaha menghasut penduduk lain untuk mengusirnya. Dia bahkan mengungkit-ungkit status anak Vianne, Anouk, sebagai anak haram yang tidak berayah. Tapi ternyata tidak semua penduduk kota itu membenci Vianne dan anaknya. Ibu Caroline yang sudah tua tapi keras kepala, Armande Voizin, justru menyukai Vianne dan menjadi pelangan tetap La Celeste Praline. Caroline menentang keras kebiasaan baru ibunya meminum coklat manis, mengingat Armande pengidap diabetes. Caroline sudah lama melarang Armande bertemu dengan anak Caroline, Luc, meskpiun Armande sangat rindu akan cucunya itu.

Keadaan diperparah dengan datangnya sekelompok gipsi yang bersandar di sungai dekat kota tersebut. Penduduk pedesaan Prancis yang taat beragama itu mayoritas membenci orang gipsi yang mereka kira menyembah setan dan sering berbuat kriminal. Francis Reynaud, menjelang paskah, mengobarkan 'perang salib' kepada 2 musuh, Vianne Rocher dan orang-orang gipsi. ianne Rocher yang keras kepala tidak menyerah atas intimidasi Reynaud, justru dia mengumumkan bahwa dia akan mengadakan sebuah festival coklat, tepat di hari Minggu Paskah. Secara tidak terduga, penduduk kota itu mulai menyukai coklat dan hubungan sosial mereka membaik karena toko coklat Vianne.

Novel ini membahas segala macam jenis coklat dan pengolahannya, akan tetapi benang merah dalam novel ini membahas tentang hal yang tak pernah selesai diributkan dari masa kegelapan sampai sekarang: dominasi akan kebenaran moralitas dan agama. Dalam novel ini seakan kita dibukakan kepada argumen bahwa semakin taat orang beragama tidak berbanding lurus terhadap kemaslahatan sosial. Dalam hal ini digambarkan dengan sikap pendeta Francis Reynaud yang membenci keberagaman, dan menganggap coklat adalah makanan dari setan yang menggoda umat manusia dengan kenikmatannya dan menganggap pemilik toko coklat adalah pembantu setan.

Pendeta Francis Reynaud bukanlah gambaran mengenai agama katolik semata, melainkan semua agama mempunyai figur seperti itu, keras, militan, dan hanya mempunyai satu logika kebenaran, yaitu logika Tuhannya sendiri. Reynaud merasa berkewajiban untuk membela Tuhannya. Reynaud merasa paling dekat dengan Tuhan. Ini seharusnya tidak aneh, bukankah kita semua juga merasa seperti itu? Tuhan sendiri tidak akan turun ke bumi dan mengumumkan bahwa yang benar selama ini adalah si A bukan si B. Kalau ini terjadi, tidak akan ada lagi Islam Syiah, Islam Sunni, Mutazilah, Ahmadiyah, Katolik, Protestan, Kristen Ortodoks, Buddha, Hindu, Kejawen, dan sebagainya. Kadang umat manusia di dunia hanya menciptakan Tuhan-nya sendiri dalam kepalanya. Ketika mereka saling memusuhi, saling mengusir, saling membunuh dan berperang, kadang mereka berperang hanya karena isi kepala mereka berbeda.

Ada yang anti-kehidupan dalam kehidupan beragama yang taat di dunia ini. Coklat yang semata-mata hanya rempah-rempah, dituduh sebagai alat setan. Orang-orang taat beragama rela meledakkan dirinya di sekelompok orang agar ikut mati bersamanya. Mereka beranggapan bahwa Tuhan akan memberikan kehidupan yang lebih indah setelah mati apabila dia berhasil membunuh orang-orang kafir. Seakan tidak ada jalan lain dalam dialog antar peradaban, cara satu-satunya adalah saling memusnahkan dan merusak. Orang seperti itu menganggap kehidupan ini tidak layak diteruskan, baik kehidupan orang-orang di sekitarnya maupun (bahkan) hidupnya sendiri. Kenapa agama sampai sedemikian anti kehidupan? Ini adalah otokritik buat kita, umat beragama.

Yang pasti, coklat (bukan agama) tidak membuat kita membenci orang lain atau merusak kehidupan. Minuman coklat panas membuat hari-hari kita yang penat dan melelahkan serasa ringan dan tenang, dia tidak anti kehidupan.

Sabtu, 13 Agustus 2011

The Medici Dagger - Cameron West

Suatu saat saya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Bekasi, dalam rangka memenuhi janji rapat dengan beberapa orang. Selesai rapat, saya sempatkan berjalan-jalan berkeliling tempat perbelanjaan yang cukup lengang itu. Mata saya sempat tergoda oleh sebuah counter yang menjual gorengan. Saya berpikir dua kali untuk membeli gorengan, karena terpikir kolesterol, sehingga uangnya bisa dipakai untuk hal yang lebih bermanfaat. Ternyata di seberangnya ada bazaar buku murah. Mungkin sebaiknya alokasi dana untuk gorengan di realokasi ke buku murah.

Saya tidak menemukan buku yang ingin dibeli, kecuali buku ini, The Medici Dagger. Buku tulisan Cameron West ini dijual lebih murah dari harga gorengan, mungkin karena tidak laku. Abstraknya cukup menjanjikan, seakan buku ini adalah masuk genre The Da Vinci Code.

Ternyata saya tidak menemukan apa yang saya cari dalam sebuah buku. Buku ini tidak memberikan apa-apa untuk saya. Dalam beberapa hari saya membacanya, semuanya datar, tak menemukan logika apapun yang membuat cerah hati dan pikiran. Saya tidak menyangka, karena Cameron West pernah terkenal dengan buku memoirnya yang menghebohkan yang berjudul First Person Plural, yang mengklaim bahwa dia memiliki kepribadian ganda. Buku ini lebih heboh dari Sybil, karena diceritakan oleh penderitanya sendiri.

The Medici Dagger adalah novel pop laga biasa ternyata. The Medici Dagger mempunyai plot sangat khas Hollywood yang aneh. Semuanya serba kebetulan dan diselesaikan dengan cara jagoan. Apabila buku ini diangkat ke layar lebar (yang saya yakin itu memang tujuan penulisnya, terutama terlihat dari ucapan terima kasih penulisnya yang agak "menjilat" kepada Tom Cruise), saya yakin filmnya pun hanya menjadi film laga rating B.

Dalam buku ini dikisahkan seorang stuntman Hollywood yang jagoan bernama Reb Barnett yang dihantui oleh kematian ibu dan ayahnya yang seorang sejarawan terpandang. Ayah dan ibunya tewas terbunuh ketika Reb masih anak-anak, karena mengejar artifak yang diperebutkan kalangan kejahatan internasional, yaitu belati Medici. Belati Medici disebutkan sebagai ciptaan Leonardo Da Vinci paling berbahaya, terbuat dari logam yang tidak bisa dihancurkan namun sangat ringan. Da Vinci memutuskan untuk menyembunyikannya di abad ke-15 karena takut ciptaannya akan digunakan untuk kejahatan.

Entah kenapa, ketika Reb dewasa sudah kehilangan kesan akan artifak yang diburu mendiang ayahnya tersebut, dia tiba-tiba mendapat telepon yang memberi informasi tentang pembunuh ayahnya yang berada di Italia. Reb memutuskan untuk mencari tahu dan mengejar pembunuh ayahnya ke Venesia, Italia. Di sana dia bertemu seorang wanita asli New York yang bekerja sebagai kurator museum sejarah, bernama Antonia Gianelli, yang selalu Reb panggil "Ginny". Berdua mereka menjadi sasaran pengejaran Nolo Tecci, pembunuh ayahnya, dan gembong senjata internasional bernama Werner Krell. Juga mereka terlibat dalam kejar-kejaran dengan badan rahasia multinasional, lebih rahasia daripada CIA, bernama Gibraltar. Di akhir cerita, bisa ditebak, bahwa mereka menemukan belati Medici yang disembunyikan ratusan tahun oleh Leonardo Da Vinci.

Saya tidak bisa begitu menikmati buku ini, bahkan untuk sekadar sebagai hiburan. Saya sudah membaca The Da Vinci Code, yang walaupun menurut saya ditulis agak sembrono, namun cukup menarik. The Da Vinci Code adalah novel dengan genre thriller untuk mengungkap konspirasi internasional. The Medici Dagger berada di kaliber yang lebih rendah daripada The Da Vinci Code, apabila dibandingkan. Apalagi beberapa minggu sebelumnya, saya baru membaca buku 'raksasa' Foucault's Pendulum karya Umberto Eco. Setelah membaca Foucault's Pendulum, membaca The Medici Dagger seakan seperti makan permen kapas harum manis setelah minum segelas bir.

Akhirnya saya kembali memikirkan counter yang menjual gorengan di pusat perbelanjaan itu. Hmm, harum baunya masih terasa sampai sekarang...

Rabu, 27 Juli 2011

A Death in Vienna - Frank Tallis

Banyak hal yang membuat saya memutuskan untuk membaca sebuah buku. Kadang karena rekomendasi teman atau pakar. Kadang karena kekaguman saya akan penulisnya. Kadang juga karena buku itu adalah buku yang langka. Tapi yang satu ini, jujur saja, saya salah beli buku.

Saya sedang berjalan-jalan ke sebuah bazaar buku dengan diskon (katanya) sampai 70%. Selesai melihat-lihat dan menimbang-nimbang, saya tidak menemukan buku yang menarik. Tapi daripada merasa rugi waktu, akhirnya saya memutuskan untuk membeli paling tidak sebuah buku. Buku A Death in Vienna ini saya beli, karena saya familiar dengan judulnya. Saya pikir ini sebuah karya klasik.

Ternyata saya misinterpretasi. Buku klasik yang saya cari adalah Death in Venice, bukan A Death in Vienna. Setelah saya telusuri, A Death in Vienna sendiri bukanlah judul asli buku ini. Judul aslinya Mortal Mischief, ditulis oleh Frank Tallis. Tapi, ya sudahlah, saya memang sedang butuh bacaan, apapun bukunya.

Di luar perkiraan, buku ini cukup menarik, dan sangat menghibur. Novel ini adalah sebuah thriller detektif ala Hercule Poirot, dengan pendekatan yang unik, yaitu psikoanalisis. Penulisnya, Frank Tallis (http://www.franktallis.com) adalah seorang praktisi psikologi klinis, peneliti dan penulis buku psikologi populer, yang berubah haluan menjadi penulis novel thriller detektif. Hasilnya sangat meyakinkan, novelnya sangat menarik dan enak dibaca. Saya ingat, pernah saya seharian membaca novel Dan Brown tanpa berhenti saking enaknya untuk dibaca, menurut saya novel ini lebih bagus dari novel tulisan Dan Brown. Saya tidak menghabiskan novel ini seharian, karena saya tidak punya banyak waktu luang, tapi buku setebal 580 halaman ini habis saya baca di kereta listrik hanya dalam waktu 5 hari.

Ternyata Frank Tallis cukup serius mendalami profesi barunya ini. Dia menulis novel ini sebagai seri pertama dari serial petualangan seorang dokter psikolog muda bernama Max Liebermann. Max adalah seorang praktisi psikologi klinis di Wina, tahun 1902, dan murid langsung dari Sigmund Freud. Buku ini adalah kasus pertamanya yang diselesaikan bersama inspektur polisi Oskar Reindhart. Buku ini diberi sub judul: The Liebermann Papers 1. Saat ini menurut website penulisnya, telah terbit sampai The Liebermann Papers 5.

Novel ini seperti pengulangan stereotip cerita detektif cerdas dan pasangannya. Max Liebermann dan Oskar Reindhart adalah Poirot dan Kapten Hastings atau Sherlock Holmes dan Dr. Watson. Hanya saja, Liebermann lebih intelek, dengan pendekatan sains yang utama. Liebermann adalah Sherlock Holmes yang ilmuwan. Liebermann menjadi detektif yang cerdik semata-mata karena dia mempunyai kecerdasan intelektual yang tinggi dan anti takhayul. Dia adalah tipikal Yahudi cerdas dan terpelajar yang kritis terhadap budaya Eropa klasik yang kolot, itu pula yang menyebabkan dia selalu dicurigai masyarakat. Pun novel ini mengambil setting bibit kelahiran ultra nasionalisme Pan Jerman.

Alkisah, tersebutlah seorang cenayang cantik bernama Charlotte Löwenstein. Charlotte yang berprofesi sebagai medium untuk arwah-arwah penasaran, ditemukan terbunuh di dalam ruangan yang terkunci rapat dari dalam, dengan luka tembak, namun tanpa ditemukan sebutir pelurupun di tubuhnya. Tidak pula ditemukan senjata pembunuh. Sebuah kejahatan yang sempurna, seakan setan sendiri yang membunuhnya karena praktek paranormalnya yang hanya direstui iblis. Di dekat tubuh Charlotte Löwenstein ditemukan sebuah pesan yang seakan-akan mengesankan bunuh diri.

Seperti roman detektif a la Agatha Christie, Charlotte dikelilingi oleh calon tersangka, yaitu para pengikutnya yang setia. Charlotte Löwenstein beserta pengikutnya secara rutin mengadakan pertemuan untuk memanggil arwah di rumahnya. Pengikutnya antara lain: Karl Uberhost, seorang tukang kunci; Hans Bruckmüller, seorang pengusaha; Zoltán Záborszki, seorang bangsawan dari Hungaria; Otto Braun, seorang pesulap murahan; Natalie Heck, seorang wanita muda menarik yang pemalu; dan pasangan suami istri terpandang Heinrich dan Juno Hölderlin.

Plot dalam buku ini sangat menarik. Liebermann adalah orang yang cukup sibuk, layaknya detektif dalam film TV Amerika. Selain banting tulang menyelesaikan kasus kriminal yang 'sempurna' tersebut, dia juga berusaha melakukan terapi terhadap Miss Lydgate, seorang wanita muda Inggris yang awalnya mengalami kelumpuhan, ternyata belakangan ketahuan mempunyai kepribadian ganda. Dia juga sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Clara, kekasihnya. Selain kesibukan-kesibukan di atas, dia masih sempatkan bermain piano di kafe, memainkan musik klasik dengan Oskar (selain psikoanalis handal, Liebermann adalah seorang pemain piano yang sangat ahli). Liebermann juga disegani oleh gurunya, Sigmund Freud sendiri. Benar-benar sebuah plot yang luar biasa. Terlalu luar biasa malah.

Kadang-kadang, di novel ini kita tidak menemukan keraguan. Semuanya serba positivis, sesuai semangat pencerahan. Argumen yang ingin ditunjukkan dalam novel ini adalah bahwa bila Anda berusaha memasuki kondisi psikologis seseorang dan memahaminya, maka proses itu layaknya sebuah penyelidikan detektif Poirot. Dalam sub-conscious, Anda akan menemukan motif, tersangka, modus operandi, dan alibi.

Meskipun begitu, novel yang cukup tebal ini adalah novel yang bagus. Frank Tallis benar-benar tidak salah pilih profesi, meninggalkan praktek psikologinya untuk menjadi penulis novel. Novel ini kadang terjebak terlalu dalam untuk menjelaskan sejarah, latar belakang, dan wawasan. Sedikit pamer, semacam cerita Si Boy yang baik hati dan tidak sombong, jagoan lagipula pintar, tapi tetap menarik untuk dibaca. Sangat menghibur, seharusnya buku ini direkomendasikan untuk pembaca yang tidak ingin menikmati diskursus terlalu berat, tapi tetap saja ingin mendapatkan 'sesuatu yang lebih' dari sebuah buku yang menghibur.

Senin, 04 April 2011

The Great Gatsby - F. Scott Fitzgerald

Suatu saat, ketika bertemu dengan seorang teman di sebuah kafe, saya iseng membawa buku The Great Gatsby karangan F. Scott Fitzgerald. Saat itu saya sedang berusaha menyelesaikan membacanya.

Teman saya bilang, "Wah, aku suka sekali film The Great Gatsby! Sudah lama sih, tapi tetap berkesan."

Saya menjawab bahwa saya belum menontonnya. Tapi saya paham yang dia bicarakan, tentunya dia berbicara tentang film The Great Gatsby tahun 1970-an yang dibintangi oleh Robert Redford. Sepanjang pengetahuan saya, menonton akting Robert Redford selama ini memang belum pernah mengecewakan. Tapi seandainya dia tahu bahwa Baz Luhrmann menggarap versi barunya tahun depan dengan bintang Leo DiCaprio dan Tobey Maguire, mungkin dia akan histeris (teman saya ini penggemar Moulin Rouge). Anda bisa bayangkan Baz Luhrmann menggarap karya F. Scott Fitzgerald, hasilnya pasti: Jazz!

The Great Gatsby mulai ditulis tahun 1923 dan diterbitkan pertama kali tahun 1925. Oleh penerbit Modern Library, buku ini didudukkan di peringkat kedua 100 novel terbaik sepanjang masa. Orang Amerika Serikat sangat bangga dengan karya F. Scott Fitzgerald, beberapa kritik menyebutnya sebagai buku sastra terbaik Amerika. Di Amerika Serikat, pelajar SMA dalam pelajaran sastra wajib membaca buku ini. Namun sedikit yang tahu bahwa buku ini ketika baru terbit gagal meraup pasar. Para kritikus pun saat itu tidak menyambutnya dengan baik. F. Scott Fitzgerald sempat depresi atas kegagalan ini, dan belum pernah mengalami jaman dimana semua orang menghargai The Great Gatsby. The Great Gatsby mulai dilirik kalangan luas setelah Fitzgerald meninggal.

The Great Gatsby adalah sebuah cerita klasik yang sederhana tentang cinta yang terpinggirkan dan rindu dendam. Fiksi ini berpusat pada kehidupan misterius seorang milioner eksentrik bernama Jay Gatsby. Narator dalah tokoh ini adalah Nick Carraway, seorang pemuda lulusan Yale yang baru saja pindah ke New York.

Setelah menyelesaikan tugasnya di Perang Dunia I sebagai tentara, Nick pulang ke Amerika untuk bekerja di bidang penjualan obligasi dan investasi. Dari Amerika barat, dia pindah ke timur, tepatnya ke New York, untuk bekerja di sebuah perusahaan investasi. Dia menyewa sebuah bungalow sederhana di pinggiran kota, yang terletak tepat di sebelah kastil besar, yang tidak dia ketahui siapa pemiliknya kecuali hanya namanya yang disebut dengan tuan Gatsby. Di kastil itu, tiap hari diadakan pesta besar-besaran yang selalu meriah, dengan cahaya yang gemerlap dan musik jazz hingar tak henti-henti.

Satu-satunya keluarga yang Nick kenal di New York adalah sepupunya yang cantik bernama Daisy, yang tinggal bersama anaknya yang masih kecil, dan Tom, suaminya yang juga kaya. Daisy mengundang Nick untuk makan malam di rumahnya yang megah, dalam rangka menyambut kepindahan Nick ke New York. Dalam makan malam itu hadir pula teman dekat Daisy, yaitu Jordan Baker, seorang pemain golf wanita profesional. Jordan bertanya, apakah Nick kenal Gatsby. Kebetulan, kata Nick, Gatsby adalah tetangganya. Ketika pasangan Tom dan Daisy meninggalkan mereka berdua sebentar untuk mendiskusikan sesuatu yang pribadi, Jordan membisikkan ke Nick bahwa Tom memiliki pasangan selingkuh, dan Daisy mulai curiga.

Suatu hari Tom mengajak Nick naik kereta bersama ke tengah kota New York. Di perjalanan, Tom mengajak Nick mampir ke sebuah bengkel milik seseorang bernama Wilson. Wilson memiliki istri bernama Myrtle, yang ternyata adalah wanita simpanan Tom. Diam-diam Tom mengajak Myrtle pergi bersama mereka. Meskipun tidak nyaman karena mengetahui mereka bercinta sembunyi-sembunyi dari pasangan masing-masing, Nick setuju ketika diajak oleh Tom dan Myrtle ke apartemen mereka di tengah kota. Ternyata mereka sudah lama punya apartemen bersama itu untuk menyalurkan asmara mereka yang terlarang. Di apartemen tersebut, Myrtle dan Tom juga mengundang adik Myrtle, Catherine, juga pasangan suami istri Chester dan Lucille. Mereka pesta minuman keras hari itu. Dalam perbincangan dalam pesta, Catherine membicarakan legenda tentang Gatsby, yang membuat Nick makin penasaran dengan tetangga sebelah rumahnya ini.

Suatu saat, sebuah undangan pesta datang ke rumah Nick, berasal dari Tuan Gatsby di sebelah rumah. Nick pergi ke rumah Gatsby untuk mengikuti pesta meriah yang biasanya diadakan tiap hari itu. Dia pergi sendirian, dan tak kenal siapa-siapa dalam pesta yang riuh itu. Bahkan dia tidak tahu mana orang yang bernama Gatsby yang telah menundangnya. Semua orang sepertinya mengenal Gatsby, kecuali Nick. Ketika sedang menikmati pesta, Nick bertemu Jordan, dan mereka berdua kemudian memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di pesta. Dalam pesta itu, mereka bertemu dengan bermacam-macam orang dengan bermacam-macam kepribadian yang aneh, sampai akhirnya mereka bertemu dengan Gatsby. Gatsby yang kaya raya mengajak Nick untuk berteman lebih akrab.

Di hari lain, Gatsby menjemput Nick untuk mengajaknya makan siang di kota. Dalam perjalanan Gatsby mengaku bahwa kekayaan yang diperolehnya adalah dari warisan keluarga. Dalam makan siang, Nick dikenalkan dengan seorang Yahudi licik bernama Wolfsheim. Wolfsheim adalah orang yang bergerak di bidang perjudian dan penipuan untuk mencari kekayaan. Ketika makan siang usai, kebetulan Nick melihat Tom disitu. Nick mengenalkan Tom dengan Gatsby, tapi seolah Gatsby tidak nyaman dengan perkenalan itu. Tahu-tahu, Gatsby sudah menghilang entah kemana.

Tak lama kemudian, Nick menjalin hubungan asmara dengan Jordan. Jordan dalam suatu kesempatan bercerita bahwa dia baru ingat pernah melihat Gatsby sebelumnya di masa mudanya. Gatsby sebagai seorang tentara berseragam pernah berpacaran dengan Daisy sebelum mereka semua pindah ke New York. Setelah itu, Gatsby dikirim ke perang di Eropa, dan Daisy memutuskan untuk melupakan Gatsby dan menikahi Tom. Tapi Gatsby tidak pernah melupakan cintanya kepada Daisy. Setelah perang selesai, dia pergi kuliah di Oxford, kemudian pindah ke New York dan bertekad untuk mendapatkan kembali cinta Daisy. Jordan juga mendapat pesanan dari Gatsby untuk membujuk Nick agar mempertemukan dirinya dengan Daisy kembali dalam sebuah kebetulan. Nick mengiyakan.

Nick mengundang Daisy untuk makan siang di rumah sewanya yang kecil. Yang tidak diketahui Daisy adalah bahwa Gatsby akan datang juga mengunjungi rumah Nick. Daisy terkejut akan kedatangan Gatsby. Pertemuan kembali keduanya sangat canggung. Gatsby kemudian mengajak mereka ke kastilnya, memamerkan kekayaannya. Daisy mulai terpesona kembali oleh Gatsby, dan mereka berdua mulai jatuh cinta kembali.

Daisy yang sudah curiga akan hubungan selingkuh Tom, mengundang Gatsby ke villanya, untuk bertemu Tom. Nick dan Jordan juga diundangnya. Tom juga mulai curiga bahwa Gatsby mengejar cinta Daisy. Belakangan Daisy mengusulkan agar mereka berlima pergi bersenang-senang di Plaza Hotel. Daisy akan pergi satu mobil bersama Gatsby, sementara Tom akan pergi bersama Jordan dan Nick. Tom memaksa membawa mobil kuning Gatsby, sehingga Gatsby terpaksa membawa Daisy dengan mobil Tom. Dalam perjalanan, Tom mengisi bensin mobil Gatsby di bengkel Wilson. Wilson dan Myrtle melihat Tom dan merasa bahwa mobil itu adalah mobil Tom. Sesampainya di hotel, dipengaruhi oleh minuman keras, mereka bertengkar. Tom mengonfrontir Gatsby bahwa dia sengaja merebut Daisy dari Tom. Gatsby mengaku bahwa dia memang mencintai Daisy sejak dulu. Dia mengaku bahwa dulu dia terlalu miskin untuk menikahi Daisy. Tom menuduh bahwa Gatsby memperoleh kekayaannya dari menyelundupkan minuman alkohol ilegal. Gatsby mempertanyakan Daisy, siapakah yang sebenarnya dicintainya, apakah Tom atau Gatsby. Karena depresi, Daisy tidak menjawab pertanyaan itu, alih-alih, lari keluar dari kamar hotel. Gatsby menyusul Daisy, dan dengan mobil kuningnya sendiri, dia berniat mengantarkan Daisy pulang.

Mobil Gatsby melewati melewati bengkel Wilson. Myrtle menyangka bahwa selingkuhannya, Tom, sedang berada dalam mobil itu, jadi dia pergi mendekatinya. Tidak disangka-sangka, mobil Gatsby malah menabrak Myrtle sampai tewas. Mobil Gatsby melesat melarikan diri. Wilson yang menyaksikan langsung istrinya ditabrak sampai tewas, sangat terpukul akan kejadian ini. Polisi pun dipanggil oleh penduduk untuk menyelediki kasus tarak lari itu.

Malam harinya, Nick menemui Gatsby, dan Gatsby menceritakan segalanya. Gatsby mengungkapkan bahwa yang menabrak Myrtle adalah Daisy. Gatsby juga bercerita bahwa dia memperoleh kekayaannya dengan tidak wajar dari tindakan kriminal yang dijalankannya untuk Wolfsheim. Dia memperjuangkan kekayaan itu hanya untuk mengejar Daisy. Dia mengadakan pesta tiap hari dan mengundang semua orang di kota itu agar Daisy suatu saat akan datang. Nick menyarankan Gatsby untuk pergi, karena polisi akan melacak mobilnya, tapi Gatsby menolak.

Wilson, suami yang marah, berniat membalas dendam atas kematian istrinya. Dia mengunjungi Tom dengan pistol, menyangka bahwa yang menabrak istrinya adalah Tom. Tom menyangkal, dia bilang ke Wilson bahwa mobil yang menabrak Myrtle adalah mobil Gatsby. Wilson pergi ke kastil Gatsby dan dia menemukan mobil yang menabrak istrinya tempo hari dengan bumper yang penyok. Dia masuk ke dalam, menemukan Gatsby sedang berenang. Dia menembak Gatsby sampai tewas, kemudian membunuh dirinya sendiri.

Kisah tragis ini adalah kisah seorang accidental hero. Gatsby tidak berniat untuk menjadi orang yang bernilai maupun disukai orang lain. Dia hanya ingin mendapatkan cinta sejatinya dan dicintai kembali. Novel Fitzgerald ini adalah salah satu cerita moralitas kepahlawanan ala Amerika yang digemari baik oleh dunia buku maupun film Hollywood. Gatsby adalah seorang pria sejati, pecinta sejati, dan pribadi yang dikagumi banyak orang. Dia adalah orang yang konsisten, tapi dia tidak pernah berniat untuk menjadi orang baik-baik. Dia adalah penyelundup minuman keras. Dia adalah sang penjahat yang memiliki kapasitas sebagai pahlawan, orang baik yang menyeberang dan terjebak di sisi jahat. Dan sebenarnya dia tahu pasti apa yang pantas dia dapatkan atas pilihannya. Moralitas kepahlawanan ala Amerika seperti ini memandang dunia dan nilai-nilainya dengan sinis.

Anda mungkin familiar dengan tokoh Rick yang dimainkan Humphrey Bogart, dalam film Casablanca. Atau karakter Clint Eastwood sebagai koboi tak bernama dalam A Fistful of Dollar (sebenarnya produksi Italia, tapi menjadi legenda besar di Amerika), dimana awalnya dia hanya berpikir untuk mendapatkan uang, malah akhirnya membabat habis sebuah gang pengacau di suatu kota. Atau bahkan Anda ingat tokoh John McClane, seorang polisi pemabuk bermasa depan suram di film Die Hard yang dimainkan oleh Bruce Willis. McClane tak pernah bermimpi muluk untuk menegakkan kebenaran, akhirnya malah pergi sendirian melawan satu pasukan penjahat bersenjata lengkap (yang satu ini tidak mati-mati, makanya diberi judul Die Hard). Ini adalah sedikit banyak bagaimana cara pandang orang Amerika terhadap kepahlawanan. Idealisme itu murah. Nilai dan moralitas sudah bankrut. Tapi seorang pahlawan tidak dibentuk, dia dilahirkan.

Gatsby adalah pahlawan Fitzgerald. Dia perlu menciptakannya dan menjadikannya hidup, dengan segala referensi yang ada. Bahkan kastil Gatsby pun dibuat berdasarkan bangunan sebenarnya yang ada di Long Island. Wolfsheim dan Daisy pun adalah tokoh yang diinspirasi dari tokoh nyata. Fitzgerald juga menciptakan Nick. Nick Carraway adalah Fitzgerald sendiri, karena dia membutuhkan tokoh untuk bercerita. Nick diciptakan Fitzgerad sebagai tokoh yang dipercaya oleh semua pihak sebagai "penampung" rahasia, sehingga dia meneruskan rahasia-rahasia kepada pembaca. Tanpa Nick, buku ini tidak akan pernah ditulis.

Buku ini menceritakan kembali Era Jazz, tahun 1920-an di Amerika Serikat, dimana Jazz muncul sebagai musik pemberontak, sama halnya ketika tahun 1950-an dengan Rock n' Roll, atau tahun 1980-an dengan musik Metal, atau musik Grunge di tahun 1990-an. Buku ini sangat trendy pada masanya. Masa itu ditandai dengan gelombang kejahatan penyelundupan minuman keras yang dilarang oleh pemerintah. Orang Amerika saat itu menyebut penyelundup minuman keras sebagai "bootleggers". Al Capone di Chicago adalah salah satu mafia bootlegger yang paling terkenal saat itu. Masa itu juga ditandai dengan munculnya generasi wanita baru, yaitu apa yang disebut dengan "flappers", dimana para wanita ini memakai rok mini, berdandan berlebihan dengan potongan rambut bob, berdansa gila-gilaan dengan musik Jazz, merokok di tempat umum, dan terbuka secara seksual. Para flappers ini menggantikan generasi ibu-ibu mereka yang pendiam. Jordan, Daisy, dan Myrtle adalah gambaran para flappers sebenarnya, para wanita pemberontak. Masa yang sentimentil sebenarnya. Sekarang semua sudah terlewati hampir seabad lamanya. Sekarang musik Jazz dan pesta-pestanya sudah menjadi foto lama yang sunyi.

Saya selalu suka membayangkan Amerika tahun 1920-an. Itu adalah jaman keemasan sebelum Malaise, dan perang Dunia kedua. Jaman itu adalah jaman pemberontakan musisi Jazz kenamaan seperti George Gershwin dan Benny Goodman. Jaman yang gempita dengan Art Deco dan Surealisme. New York terlihat seperti Paris yang sentimentil. Buku ini menggambarkan era itu dengan sangat menarik dan romantis. Novel yang sangat enak untuk dibaca. Entah kenapa, mengingatkan saya akan prosa Seno Gumira Ajidarma yang romantis. Buku ini tidak cukup hanya kita baca sekali. Prosanya indah dan selalu ada hal yang baru setiap kali kita membacanya kembali.

Selasa, 22 Maret 2011

Moby Dick - Herman Melville

Suatu saat, di sebuah toko buku di sebuah pertokoan di daerah Pejaten, Jakarta, saya menemukan buku-buku klasik berbahasa Inggris dengan harga hanya Rp 30.000 saja. Tentu saja saya merasa girang bukan kepalang. Semuanya dipatok dengan harga yang sama, baik buku Leo Tolstoy, Charles Dickens, William M. Thackeray, Jane Austen, maupun penulis besar lainnya. Tidak mau merasa rugi (meski kalau dipikir lagi, agak naif logika saya waktu itu), saya memilih buku yang paling tebal. Buku yang paling tebal disitu adalah Anna Karenina karya Leo Tolstoy, yang ternyata saya sudah punya dan baca edisi bahasa Indonesianya. Saya mencari yang paling tebal kedua setelah Anna Karenina, menemukan buku Moby Dick karya Herman Melville.

Sejak dulu saya ingin membaca buku ini, tapi belum ada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Buku setebal itu tentunya saya bayangkan akan menemani saya dalam perjalanan yang sering saya lakukan, sehingga terasa lebih asyik, ringan, dan cepat. Lagipula, Moby Dick termasuk ke dalam 100 novel terbaik sepanjang masa, dimana saya mempunyai ambisi terpendam untuk membaca semuanya.

Ternyata belakangan saya merasa salah memilih buku. Buku Moby Dick sangat sulit dibaca, apalagi dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang pas-pasan. Buku ini sangat aneh dan memiliki struktur yang asing. Belum pernah saya membaca buku seperti tulisan Herman Melville ini. Alhasil, saya menghabiskan waktu hampir dua bulan untuk menghabiskan dan mencernanya.

Harus diingat, saya hanya sempat membaca di perjalanan, baik di kereta listrik maupun di lobi bandara. Sehari mungkin hanya bisa membaca 5-10 halaman, ditambah dengan kesulitan bahasa Inggris saya, jadi kadang lebih lambat lagi saya membacanya. Kadang setelah membaca beberapa halaman, saya balik lagi, membaca ulang, demi memahami apa yang sebenarnya tersirat dari kata-kata penulisnya. Sekarang setelah selesai membacanya, buku ini sudah tidak berbentuk, kucel dan keriting. Alih-alih merasa asyik dan terhibur, saya selalu mengernyitkan dahi ketika dalam perjalanan sambil membaca buku ini. Berat sekali. Tapi tak apalah, kepuasan menyelesaikan sebuah buku sungguh tiada tara rasanya.

Buku Moby Dick menurut saya 10 kali lebih rumit dari The Name of The Rose-nya Umberto Eco. Ditambah lagi kenyataan bahwa Herman Melville adalah seorang ahli bahasa Inggris dan pendalam filsafat. Buku ini sulit dimengerti, terutama juga karena Herman Melville sendiri tidak berusaha keras untuk dimengerti oleh pembacanya. Dia tidak mengharap sembarang orang bisa menikmati bukunya. Namun setelah selesai membacanya, saya menjadi mengerti bahwa kerumitan dari buku ini adalah sebuah berkah. Setelah lama membaca dan mempelajari, saya semakin mengagumi buku Moby Dick ini sebagai sebuah buku yang hebat dengan tema yang luar biasa. Buku ini bercerita tentang perburuan seekor ikan paus, sementara buku ini sendiri bisa dianggap sebuah karya 'ikan paus' dari segi kebesarannya.

Melville seakan sedang terlibat dalam sebuah proyek mahakarya yang menggambarkan segalanya dalam sebuah buku fiksi, dan dia berhasil. Hasilnya adalah buku setebal 469 halaman dengan 135 bab yang menggambarkan perburuan ikan paus putih yang dijuluki Moby Dick, dimana si Moby Dick itu sendiri hanya muncul pada tiga bab terakhir. Jelas ini bukanlah sebuah novel laga, karena ada 132 bab lain yang tidak terkait dengan pertempuran melawan Moby Dick. Anda yang bermaksud membacanya untuk mencari aksi laga pertempuran melawan ikan paus raksasa yang buas Moby Dick, sebaiknya melupakannya.

Novel ini dimulai dengan kalimat pembuka yang sangat terkenal, yaitu, "Call me Ishmael." Narator dalam novel ini adalah Ishmael. Dia adalah seorang anak muda (yang ternyata digambarkan sebagai orang yang mempunyai referensi luar biasa) yang ingin ikut dalam sebuah kapal pemburu ikan paus. Pada masa itu, abad 19, minyak ikan paus adalah sumber energi utama karena minyak fosil belum banyak digunakan. Dia berteman dengan seorang pagan barbar yang kanibal bernama Queequeg, seorang penembak harpoon. Berdua mereka bergabung dengan kapal Pequod, yang berangkat dari Nantucket, yang dikomandoi oleh kapten Ahab, seorang tiran yang obsesif.

Kapten Ahab mempunyai dendam membara untuk membunuh ikan paus putih raksasa yang dijuluki Moby Dick. Ahab hanya mempunyai satu kaki, karena dalam perburuan sebelumnya Moby Dick merampas sebelah kakinya. Dibakar oleh kesumat, dia mengarahkan semua kru kapalnya untuk mengejar Moby Dick sampai ke ujung dunia dan membunuhnya. Kapal Pequod tak akan kembali sebelum berhasil membunuh Moby Dick, meskipun pada akhirnya Pequod memang tak pernah kembali ke Nantucket.

Yang aneh dari novel ini adalah, bahwa sang narator, Ishmael, dalam buku ini semakin dalam semakin menghilang perannya. Buku ini lebih mirip sebuah jurnal daripada sebuah novel, menggambarkan catatan perjalanan kru pelaut. Tapi bukan hanya itu, buku ini juga kadang menjadi buku yang sangat ilmiah, dengan pembahasan Cetology (ilmu tentang ikan paus) yang rinci. Pada suatu titik tertentu, buku ini berubah menjadi panduan yang detail tentang bagaimana cara berlayar dan berburu ikan paus. Kadang secara tak terduga penulis membawa kita ke perdebatan filsafat yang dalam dan pembahasan agama dan mitos-mitos. Dalam beberapa bagian tertentu, seolah buku ini berubah menjadi drama Shakespearean. Bahkan buku ini juga dalam beberapa sudutnya berubah menjadi sebuah buku puisi.

Ini adalah proyek besar Melville, dimana dia menggabungkan fiksi, biologi, puisi, drama Shakespeare, perdebatan filosofi, dan panduan menangkap ikan dalam satu buku. Proyek sebesar ini memerlukan stamina luar biasa dan kekayaan referensi seluas lautan itu sendiri. Melville menulis seakan dia berada di kapal itu ikut berburu ikan paus. Tapi dalam waktu yang sama, dia juga menulis seolah dia sedang melakukan perenungan yang dalam di sebuah perpustakaan ilmu. Dia bisa menjadi keduanya dengan sangat magis.

Herman Melville tak pernah mendapatkan gelar sarjana. Dia menulis tentang perburuan ikan paus karena dia memang pernah menjadi kru sebuah kapal pemburu ikan paus selama 14 bulan. Tapi dia adalah pembaca yang luar biasa. Dia seorang otodidak. Dia mempelajari segalanya sendirian, dari hasil pengamatannya dan membaca buku yang sangat banyak. Dalam novel ini (tidak seperti novel lain yang melulu fiksi) dia mengutip dan menceritakan pemikiran banyak sumber. Bible, Shakespeare, Milton, Sir Thomas Browne, Jefferson, William Scoresby, Champollion, John Locke, Immanuel Kant, dan masih banyak lagi. Dia juga membuat terobosan baru dalam dunia intelektual, yaitu dalam bab 32 tentang cetology, dimana dia mengklasifikasikan ikan paus ke dalam 3 kelas, Ikan Paus Folio (terdiri dari Sperm Whale, Right Whale, Fin Back Whale, Hump-backed Whale, Razor Back Whale dan Sulphur Bottom Whale), Ikan Paus Octavo (terdiri dari Grampus, Black Fish, Narwhale, Trasher, dan Killer Whale), dan Ikan Paus Duodecimo (terdiri dari Lumba-Lumba Huzza, Lumba-Lumba Algerine, dan Lumba-Lumba Bermulut Penuh). Melville membahas mengenai anatomi seekor ikan paus, dari paru-parunya, matanya, semburannya (spout), ekornya, tulang belakangnya, dan semuanya secara detail. Seakan Melville sedang menerbitkan sebuah karya ilmiah dalam sebuah novel. Novel seperti ini, untuk itu, adalah novel besar yang aneh dan susah dikategorikan. Ini adalah potret sebuah kekayaan pemikiran.

Melville sendiri menghabiskan satu tahun untuk menulis buku ini. Anda bisa bayangkan betapa luasnya referensi Herman Melville, betapa banyak dia telah membaca buku filsafat, buku drama, buku puisi, buku agama, dan buku zoology. Sebuah energi yang dahsyat yang diperlukan Melville dalam menulis buku ini kalimat per kalimat. Seandainya dia hidup di jaman sekarang, dimana informasi dapat diperoleh dengan mudah memakai internet, mungkin dia akan menjadi raja pengetahuan.

Ini bukan buku yang mudah yang pernah saya baca. Bahkan untuk orang Amerika sendiri, buku ini sempat dianggap tidak berarti. Itu mengapa saya kira kita belum menemukan terjemahan buku ini dalam bahasa Indonesia. Buku ini terlalu susah untuk diterjemahkan, juga sulit dicerna oleh pembaca. Tapi saya beruntung telah membacanya. Setelah membaca buku ini, saya seperti telah melangkah melewati batas pemikiran yang selama ini ada sebagai konvensi. Sekali lagi, buku ini membuat saya kagum luar biasa. Saya telah membacanya. Seperti Yunus, saya membiarkan diri saya ditelan oleh ikan paus, dan kembali dengan selamat. Anda berani?

Senin, 21 Maret 2011

Cinta Yang Hilang - O. Henry

Ada saatnya, ketika masih belia, saya bermimpi untuk menjadi penulis cerita pendek (cerpen). Tapi hingga kini mimpi itu belum terjadi, dan hasrat untuk mewujudkannya juga semakin memudar. Yah, paling tidak saya pernah bermimpi.

Kala itu, saya mengidolakan O. Henry. Setiap penulis cerpen pasti menjadikan O. Henry pahlawan mereka, selain Chekov dan Kafka. Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah terkagum-kagum membaca cerita pendek O. Henry di sebuah majalah remaja.

O. Henry mempunyai nama asli William Sydney Porter. Dia memakai nama pena karena dia mulai menulis ketika dia dipenjara karena sebuah dakwaan kriminal. O. Henry adalah master dalam penulisan cerpen. Ciri khas cerpennya adalah permainan-permainan kata yang cerdas, plot yang mengalir, dan ending yang mengejutkan. Begitu populernya O. Henry di Amerika Serikat, namanya diabadikan sebagai penghargaan untuk sastrawan-sastrawan terbaik, menjadi O. Henry Award.

Tak disangka, saya menemukan buku O. Henry kembali ketika sedang berada di sebuah toko buku di luar kota. Bukunya sangat tipis, berjudul Cinta Yang Hilang, terdiri dari tujuh cerpen terkenal dari O. Henry yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku ini sangat cocok untuk menemani perjalanan, mengingat ringannya untuk dibawa, juga ceritanya yang tidak bersambungan. Namun dalam waktu hanya 5 jam untuk menghabiskannya (mungkin Anda malah bisa lebih cepat lagi).

Tapi ternyata saya merasa penerjemahannya kurang begitu layak. Bahkan mungkin buku ini terbit atas dasar pertimbangan ekonomi belaka. Satu buku hanya berisi tujuh cerita yang sebenarnya beberapa sudah pernah saya baca atau saya dengar ceritanya. Buku ini diberi judul Cinta Yang Hilang, berdasarkan judul cerpen pertama dalam buku ini. Akan tetapi, setelah disimak dengan teliti, tidak ada cerpen O. Henry yang berjudul 'Lost Love' atau yang diterjemahkan sebagai 'Cinta Yang Hilang'. Cerpen pertama dalam buku ini yang diberi judul Cinta Yang Hilang adalah terjemahan dari cerpen berjudul The Furnished Room. Terjemahan dari The Furnished Room mungkin kurang komersial dibandingkan dengan Cinta Yang Hilang.

Menerjemahkan judul, menurut saya, tidak bisa menggantinya dengan semena-mena. Judul adalah ruh dari sebuah karya tulis. Ini penerjemahan yang buruk. Seburuk menerjemahkan judul acara 'Bill Cosby Show' di TVRI jaman dahulu menjadi 'Keluarga Pak Huxtable'. 'Bill Cosby' adalah ruh dalam acara itu, adalah logika utama yang ingin disampaikan, bukan 'keluarga Huxtable'. Dalam puisi, penerjemahan judul seperti ini malah bisa berakibat fatal. Misalkan puisi Sitor Situmorang yang berjudul 'Malam Lebaran'. Puisinya hanya berisi satu baris: 'Bulan di atas kuburan'. Bila judulnya bukan lagi 'malam lebaran', maka keseluruhan 'bulan di atas kuburan' itu tidak akan berlaku. Demikian pula 'The Furnished Room', yang mengesankan sebuah kamar yang mistis, alih-alih sebuah cinta yang menye-menye.

O. Henry memiliki cara yang khas dalam menyelesaikan novelnya dengan memberi kejutan. Apabila Anda berniat membacanya, sebaiknya Anda berhenti membaca review ini sampai disini, karena bila Anda teruskan, Anda akan kehilangan kesenangan membaca cerpen-cerpen ini. Mohon maaf.

The Furnished Room atau Cinta Yang Hilang bercerita mengenai seorang lelaki muda yang mengembara mencari kekasihnya yang pergi entah kemana. Kekasihnya adalah seorang penyanyi panggung yang berkulit cerah, berambut merah keemasan, bertahi lalat di alis kirinya, dan tinggal berpindah-pindah. Lelaki muda itu berpindah-pindah tempat, demi mencari kekasihnya, dan akhirnya menyewa sebuah kamar di lantai tiga di sebuah rumah. Dia bertanya kepada induk semangnya, apakah kekasihnya pernah tinggal disana. Induk semangnya bilang dia tidak pernah melihatnya. Lelaki muda itu tinggal di kamar lantai tiga dan membayangkan bahwa wanita yang dicintainya pernah tinggal disitu. Akhirnya dia membunuh dirinya di dalam kamar itu dengan membuka keran gas. Pada waktu yang sama induk semangnya sedang mengobrol dengan orang lain tentang rahasia seorang wanita bertahi lalat di alis kirinya yang bunuh diri di kamar lantai tiga seminggu sebelumnya.

The Gift of The Magi, atau dalam buku ini diganti menjadi Hadiah Kejutan, adalah cerpen paling populer dari O. Henry. Cerpen ini sering sekali diceritakan kembali, diadaptasi, diubah, dan diterjemahkan. Saya sendiri sudah membacanya sejak dulu, tapi pangling karena diberi judul Hadiah Kejutan. Cerpen ini bercerita tentang Della yang ingin memberikan hadiah natal istimewa untuk suaminya James, meskipun uang tabungannya pas-pasan. Akhirnya dia memutuskan untuk menjual rambutnya yang indah menjuntai untuk mendapatkan uang untuk membeli hadiah istimewa untuk suaminya, James. Uang hasil penjualan rambutnya dia belikan rantai emas untuk jam suaminya yang sangat dibanggakan. Dia ingin memberikan kejutan untuk suaminya. Begitu pulang, suaminya terkaget-kaget karena rambut indah Della sudah tiada. Della menyatakan bahwa dia mengorbankan rambutnya agar bisa memberikan hadiah natal istimewa untuk James, yaitu sebuah rantai emas untuk jamnya. James memberikan kabar lebih mengagetkan lagi, bahwa dia telah menjual jam kebanggaannya untuk membelikan hadiah natal istimewa untuk Della, yaitu satu set jepit rambut mewah.

Bukti Cerita atau judul aslinya Proof of The Pudding bercerita tentang redaktur sukses sebuah majalah bernama Westbrook. Ketika sedang berjalan-jalan di taman, dia didekati oleh seorang lusuh yang meminta waktunya sebentar untuk berbicara. Orang yang lusuh itu ternyata teman lamanya, Shackleford Dawe. Dawe adalah seorang penulis fiksi gagal. Ketika masih makmur, mereka berteman baik, begitu pula istri masing-masing. Sekarang tidak ada orang yang menerima tulisannya, bahkan temannya sendiri, redaktur Westbrook. Dia mempertanyakan kenapa tulisan terakhirnya ditolak oleh Westbrook. Westbrook menganggap karyanya tidak sesuai dengan kaidah sastra. Westbrook menganggap karya yang bagus adalah karya yang dramatis. Dawe menolaknya, dengan mengatakan bahwa di kehidupan nyata, orang akan melupakan drama. Mereka berdebat. Akhirnya Dawe mempunyai ide untuk membuktikan teorinya. Walaupun segan, Westbrook setuju untuk ikut serta. Dawe berencana untuk menulis surat perpisahan kepada istrinya, dengan menyatakan bahwa dia menemukan jodoh yang baru. Mereka berniat bersembunyi untuk melihat reaksi istrinya pertama kali membaca surat bohongan itu. Begitu mereka berdua sampai rumah Dawe, sebelum sempat menulis surat bohongan, mereka menemukan sebuah surat dari istri Dawe. Dalam suratnya, Istri Dawe pamit meninggalkan Dawe karena tak tahan hidup dengannya. Dia juga mengajak istri Westbrook yang juga tidak betah, dan mencoba mengejar mimpi berdua dalam dunia pertunjukan.

Cerita keempat adalah Strictly Business, atau diterjemahkan menjadi Semata-mata Bisnis. Hart adalah seorang aktor yang serius. Dia juga mencoba menulis sebuah skenario. Suatu saat dia melihat sebuah pertunjukan dan terpesona dengan akting aktris tak terkenal bernama Cherry. Hart mendekati Cherry untuk mengajaknya bermain dalam drama tulisan skenario Hart. Hart serius dengan rencananya, ternyata Cherry juga serius. Mereka sangat ambisius, sehingga mereka mempunyai rencana-rencana bisnis tertentu. Mereka dikenal sebagai Hart & Cherry, dengan drama tulisan mereka berjudul Mice Will Play. Drama itu sukses besar, sampai bertahun-tahun selalu mendapat review yang bagus. Suatu saat dalam pertunjukan di New York, terjadi kecelakaan. Secara tak sengaja Cherry menembakkan pistol ke Hart di tengah pertunjukan. Hart terluka, tapi dia merasa tidak apa-apa. Seorang rekan Hart bercerita bahwa Cherry menangis meraung-raung ketika Hart terluka. Itu adalah bukti bahwa Cherry sebenarnya mencintai Hart. Hart bilang, sudah terlambat untuk cinta, karena mereka sebenarnya sudah resmi menikah sejak dua tahun yang lalu.

Cerita kelima berjudul Kenyataan Adalah Sandiwara, diterjemahkan dari The Thing's The Play. Ini adalah cerita favorit saya dalam buku ini. Frank dan John adalah sepasang teman, namun mereka memperebutkan cinta dari orang yang sama, Helen. Ketika Helen yang seorang gadis cantik tiada tara itu memilih Frank sebagai suaminya, John menjabat tangan Frank. Namun pada hari pernikahan mereka, John tiba-tiba masuk ke kamar ketika Helen sendirian. Dia memohon agar Helen meninggalkan Frank. Helen menolak, namun John tetap mencium-cium tangan Helen. Tiba-tiba Frank masuk ke dalam kamar, mendapati John mencium tangan Helen. John loncat keluar jendela, melarikan diri. Frank pun marah karena cemburu. Frank pergi keluar rumah dengan kesal. Selama 20 tahun, Helen menunggu Frank yang tidak pulang-pulang. Dia menolak pinangan banyak orang karena tetap setia pada Frank, walaupun dirinya sendiri sudah menua. Suatu saat dia menyewakan kamar di rumahnya kepada seorang pemain biola bernama Ramonti. Ramonti tertarik kepada Helen dan dia mengungkapkan perasaan cintanya kepada Helen. Ramonti mengungkapkan masa lalunya, bahwa Ramonti adalah nama buatan manajernya. Dia sendiri tidak ingat kehidupannya yang dulu, karena ditemukan orang tergeletak di pinggir jalan, pingsan dengan kepala berdarah. Karena lupa akan masa lalunya, dia mengejar masa depannya dengan nama Ramonti dengan belajar biola dan berkelana ke Paris. Helen sangat tertarik kepada Ramonti, akan tetapi dia bilang tidak bisa mencintainya, karena Helen bilang bahwa dia sudah punya suami, walau pergi entah kemana selama 20 tahun. Ramonti segera berlalu kembali ke kamarnya. Tiba-tiba muncul lelaki asing di depan Helen. Laki-laki itu minta maaf karena telah membuat perkawinan Helen berantakan dulu. Helen tidak mengenalnya, ternyata laki-laki itu adalah John. John mengaku bahwa setelah dia melarikan diri dari kamar Helen 20 tahun lalu, dia mencegat Frank karena cemburu. John memukul kepala Frank sehingga pingsan dan berdarah. Selanjutnya dia melihat orang lain membawa Frank ke rumah sakit, 20 tahun yang lalu.

Cerita keenam berjudul Perempuan dan Suap Menyuap, atau terjemahan dari The Girl and The Graft. Cerita ini adalah tentang seorang bernama Vaucross yang ingin terkenal di kalangan masyarakat di New York. Dia telah mencoba apapun, tetapi tetap belum berhasil. Dia meminta bantuan seorang licik bernama Ferguson Pogue. Pogue menyiapkan sebuah skandal untuk Vaucross yang akan membuat dia terkenal. Vaucross setuju untuk melakukannya. Pogue merencanakan bahwa dia harus medekati seorang wanita, yang sudah disiapkannya, bernama Artemisia Blyte. Sesudah Artemisia dan Vaucross (pura-puranya) berhubungan, Vaucros akan (pura-puranya) memutuskan Artemisia. Setelah itu, Pogue merencanakan bahwa Artemisia akan (pura-puranya) menuntut Vaucross ratusan ribu dolar, dan hal itu akan membuat Vaucross terkenal. Tak disangka-sangka, ternyata Vaucross dan Artemisia sama-sama jatuh cinta, dan mereka (benar-benar) memutuskan untuk hidup bersama.

Judul terakhir adalah Demi Cinta, atau dari versi bahasa Inggris A Service of Love. Joe, seorang seniman lukis bertemu dengan Delia, seorang penyanyi. Mereka berdua adalah seniman dan mencintai seni, yang satu seni musik, yang lain seni lukis. Mereka akhirnya menikah. Joe kuliah seni rupa dan Delia kuliah seni musik. Akan tetapi dalam perjalanannya, mereka sering kekurangan uang. Masing-masing tak ingin pasangannya putus kuliah karena biaya. Suatu saat Delia bilang Joe bahwa dia sudah memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan seni musik, yaitu memberi pelajaran menyanyi privat pada anak seorang jenderal. Dia membawa pulang uangnya dan diberikan kepada Joe. Pada saat yang lain, Joe pulang membawa uang yang menurutnya hasil penjualan lukisannya. Akhirnya pada suatu hari, Delia pulang ke rumah dengan tangan yang luka bakar. Dia beralasan bahwa itu terluka kena panggangan ketika anak sang jenderal memanggang kelinci. Joe tidak percaya cerita itu. Akhirnya Delia mengaku bahwa selama ini dia hanya bekerja sebagai tukang setrika di sebuah binatu. Tangannya terluka karena terkena setrika. Ternyata Joe tahu kebohongan Delia, karena Joe juga tidak pernah menjual lukisannya. Diam-diam Joe kerja sebagai operator mesin di Binatu yang sama, dan hari itu dia mendengar ada kecelakaan tangan pada seorang tukang setrika. Akhirnya mereka gembira karena saling jujur.

Membaca O. Henry sangat mengasyikkan. O. Henry adalah pencerita yang ulung, dimana kata-kata mengalir secara pandai. Pada akhirnya, kita terkagum-kagum akan ending dari ceritanya. Kita akan bertanya-tanya, darimana dia mendapatkan bakat seperti itu. Ada ironi yang mencekat seperti dalam The Furnished Room, maupun humor yang cerdas seperti dalam Proof of The Pudding. O Henry seperti seorang pesulap, yang memasukkan sapu tangan ke dalam sebuah topi, memantrai topi itu, alih-alih malah mengeluarkan kelinci hidup dari topi itu. Karya-karyanya magis.

Rabu, 19 Januari 2011

The Farewell Party - Milan Kundera

Milan Kundera adalah satu dari sedikit penulis novel yang dinominasikan untuk Nobel Sastra. Untuk itu, jelas kita punya banyak yang dipelajari dari karyanya. Salah satu buku yang kita bahas disini (yang saya temukan dari penjual buku bekas seharga Rp 10 ribu), juga mempunyai kekuatan "magis" khas Kundera dalam menulis prosa.

Buku ini berjudul The Farewell Party (Pesta Perpisahan), diterbitkan pertama kali di Cekoslovakia (ketika kedua negara itu masih akur dalam payung komunisme) pada tahun 1972. Edisi Bahasa Indonesia yang saya baca konon diterbitkan tahun 2004 oleh Obitiana Agency, yang merupakan terjemahan dari edisi bahasa Inggris. Ada dua versi judul dalam bahasa Inggris: The Farewell Party dan The Farewell Waltz.

Novel ini adalah sebuah roman urban dalam sebuah negara komunis yang totaliter. Milan Kundera menuliskannya sebagai sebuah komedi satir yang dalam. Meskipun novel ini bercerita tentang hubungan cinta/benci anak-anak manusia, novel ini dengan cerdas menyentuh banyak macam tema besar (dan meta-tema) antara lain eksistensi ketuhanan, komunisme dan totalitarianisme, pilihan akan kematian dan kehidupan, absurdity, bahkan sekedar memerbincangkan warna rambut dan pengaruhnya terhadap kepribadian.

Novel ini merupakan cerita yang berlatar waktu 5 hari di sebuah kota kecil yang memiliki spa tempat perawatan orang sakit dan wanita yang tak kunjung punya anak. Tokoh utamanya adalah Ruzena, seorang perawat muda di spa yang hamil. Dia mengaku dihamili oleh Klima, musisi jazz terkenal yang ahli memainkan trumpet. Klima berasal dari kota metropolitan, baru sekali mengunjungi kota kecil itu untuk melakukan konser, yang kemudian berkenalan dengan Ruzena dan berhubungan badan sekali dengannya. Klima sendiri mempunyai istri cantik sakit-sakitan yang pencemburu, bernama Kamila.

Ruzena meminta Klima bertanggung jawab atas kehamilannya, akan tetapi Klima dengan kata-kata manisnya meminta Ruzena untuk menggugurkan kandungannya. Yang tidak diketahui Klima adalah bahwa Ruzena juga berhubungan dengan seorang pria tanpa masa depan dari kota itu bernama Frantisek. Meskipun Frantisek mengaku sebagai ayah dari bayi dalam kandungan itu, Ruzena mencemoohnya.

Klima benar-benar tidak menginginkan bayi hasil perselingkuhan. Dia meminta tolong kepada Bartlef, seorang Amerika kaya yang tinggal di kota spa itu untuk memulihkan kesehatan. Hanya Bartlef yang dikenal Klima di kota itu, karena seusai konser musik, dia dijamu oleh pesta yang diadakan oleh Bartlef, dan dalam pesta itu juga dia pertama kali bertemu Ruzena.

Oleh Bartlef dia dikenalkan dengan dokter ginekolog yang mengepalai spa di kota itu, dokter Skreta. Dokter Skreta yang aneh dan eksentrik (dan sedikit megalomaniak) ini adalah juga kepala komisi aborsi di kota itu. Skreta setuju untuk membantu Klima, dengan syarat, Klima bersedia untuk tampil bersamanya dalam sebuah konser jazz. Skreta mengaku sebagai pemain drum amatir dan akan mengajak temannya seorang apoteker untuk turut serta dengan mereka memainkan piano. Klima tidak ada pilihan selain setuju, konser trio dadakan itu akan digelar lima hari lagi di kota itu.

Sementara itu Skreta kedatangan seorang teman lama, mantan aktivis bernama Jakub. Anak angkat Jakub, Olga, dirawat di spa yang dikelola oleh Skreta. Olga adalah anak dari bekas teman baik Jakub yang karena kesetiannya yang berlebihan terhadap partai dan revolusi, akhirnya mengirim Jakub. Ayah Olga kemudian dihukum mati oleh negara karena orang partai yang lain belakangan menuduh ayah Olga yang anti revolusi. Olga yang dirawat menjadi seorang gadis dewasa, tidak pernah tahu jelas mengapa ayahnya dihukum mati. Olga juga menolak Jakub sebagai figur ayah, dia sebagai remaja putri jatuh cinta kepada Jakub.

Jakub adalah teman masa kuliah dokter Skreta. Dokter Skreta pernah membuatkan pil beracun yang akan Jakub gunakan di negeri yang tak pasti itu. Apabila sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya, berbekal pengalaman pahitnya dipenjarakan, dia memilih untuk bunuh diri dengan menelan pil. Sekarang dia akan mengembalikan pil itu ke Skreta, karena merasa tidak akan membutuhkannya lagi. Dia mendapat pekerjaan baru sebagai pengajar di luar negeri, dan dalam beberapa hari harus pergi selamanya dari negeri itu. Dia datang sekaligus untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Skreta dan Olga.

Skreta mengulur kepergian Jakub dan berkeras agar menunggu sampai konser musiknya selesai. Jakub akhirnya berkenalan dengan Bartlef, dan bertemu dengan Ruzena. Secara tak terduga, Kamila yang curiga akan suaminya yang mempunyai affair, menyusul ke kota itu untuk menyaksikan konser dadakan dan melihat sendiri teman selingkuh suaminya. Disinilah novel ini menjadi seru. Semua tokohnya saling berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kejadian dalam lima hari itu sangat berpengaruh dan mengubah hidup Ruzena, Klima, Kamila, Frantisek, Skreta, Jakub, Bartlef, dan Olga. Bahkan seseorang bisa kehilangan nyawa akan pilihan yang absurd.

Novel ini adalah novek komedi percintaan di permukaan, tapi di dalamnya merupakan perdebatan yang gelap dan absurd. Novel karya Milan Kundera ini berlapis-lapis seperti bawang. Ketika kita mengupas satu lapisan, terlihat lapisan yang lain. Begitu seterusnya.

Contoh yang nyata adalah dalam hal penokohan, semuanya ambigu dan berlapis. Ruzena yang hamil oleh Klima--atau oleh Frantisek? Klima yang memiliki istri cantik dan cemerlang tapi selalu membutuhkan teman selingkuh. Frantisek yang menerima Ruzena apa adanya, namun di sisi lain posesif dan pencemburu. Kamila yang mengabdikan diri pada Klima sebagai istri tapi rindu gemerlapnya dunia. Olga, seorang anak pungut yang mencintai bapak angkatnya. Bartleff, seorang filsuf yang seperti malaikat (benar-benar malaikat) tapi ternyata juga sangat manusia. Dr Skreta adalah seorang dokter yang membantu ibu-ibu untuk mendapatkan keturunan, yang ternyata banyak membuahi sendiri ibu-ibu tersebut. Sementara Jakub, seorang protagonis yang baik, ataukah seorang pembunuh? Semua terjalin dalam kerumitan yang tak pelak menghilangkan interpretasi tunggal. Semuanya terjalin dalam bentuk ironi-ironi.

Milan Kundera beranggapan bahwa sebuah novel adalah anti pesan. Penulis novel bukanlah pembawa pesan. Tugas sebuah novel adalah menyampaikan ironi. Ketika ironi muncul, siapa yang peduli akan pesan? Misalkan, ada kesan seolah novel ini menyampaikan pesan anti aborsi. Hal itu ditolak Kundera, karena dia tidak sengaja mengeluarkan pesan anti aborsi. Tapi hal itu juga disyukuri olehnya karena ironi akan pesan anti aborsi itu sendiri.

Novel pendek ini adalah sebuah ironi besar. Saya menemukan nilai-nilai yang ambigu dalam novel ini. Ini yang menjadikannya sebuah karya seni. Sebuah komedi yang pedih. Saya tidak tahu harus menangis atau tertawa. Buku ini membawa apresiasi pembaca ke level berikutnya. Sebaiknya Anda siap-siap.

Jumat, 14 Januari 2011

The Gambler - Fyodor Dostoyevsky

Freud pernah menulis tinjauan psikoanalisis khusus untuk Dostoyevsky. Freud sangat "terganggu" oleh buku-buku Dostoyevsky, akhirnya membuat artikel yang khusus memetakan psikoanalisis Dostoyevsky, berjudul "Dostoyevsky and Parricide". Nietzsche, filsuf yang juga menggemari bukunya, menyebut Dostoyevsky sebagai satu-satunya psikolog yang dapat mengajarinya tentang apapun.

Pada bab-bab awal saya tidak berharap banyak dari Dostoyevsky. Semakin lama, saya jatuh cinta pada karyanya. Dia begitu piawai menguak sisi psikologi manusia yang paling dalam. Novelnya sangat intens. Penuh dengan kecemasan-kecemasan, represi psikologis, pertentangan conscious dan sub-conscious, katarsis-katarsis, dan sebagainya.

The Gambler adalah sebuah novel pendek. Bukan karya unggulan, karena menurut kritikus, masterpiece-nya adalah Crime And Punishment dan The Brother Karamazov. Tapi meskipun begitu, The Gambler menurut saya sudah seperti 'Godzilla', bukan sekedar 'ayam sayur', sehingga saya penasaran untuk membaca masterpiece lainnya suatu saat.

Dalam pengantar penerbitnya (diterbitkan oleh penerbit Liris) disebutkan, Fyodor Dostoyevsky menulis buku ini dalam waktu kurang dari satu bulan saja. Dostoyevsky sendiri adalah seorang penjudi frustrasi yang akut. Kegemarannya berjudi membuat dia bankrut dan hidup terlantar. Kemudian dia terikat kontrak yang menjepit dirinya, dimana dia harus menyerahkan sebuah novel tulisannya pada seorang penerbit, penerbit itu berhak atas karya-karya Dostoyevsky tanpa harus membayar apapun padanya.

Dia menulis buru-buru. Dia menulis tentang apa yang dia ketahui, dia alami. Dan hasilnya justru luar biasa. Intensitas buku ini sangat terasa, seakan kita didesak untuk mengambil keputusan untuk mempertaruhkan semua yang kita miliki dalam hidup. Kita melihat orang-orang sakit dalam perjudian. Kita bersorak sorai akan manisnya kemenangan dan turut depresi atas kekalahan.

Buku ini menceritakan tentang seorang guru privat bernama Alexey Ivanovitch. Dia bekerja untuk seorang kaya Rusia yang di ambang kebankrutan yang dipanggil dengan sebutan sang Jenderal. Alexey memiliki cinta tak terbalas kepada Polina, anak tiri Jenderal. Jenderal adalah orang Rusia yang tinggal di sebuah hotel mewah di sebuah kota perjudian fiktif di Jerman bernama Roulettenberg. Karena hartanya yang semakin menipis, Jenderal berharap bibinya yang dipanggil dengan nama "Granny" (nenek) buru-buru meninggal agar dia mendapat warisan hartanya. Jenderal mempunyai hutang kepada rentenir Perancis yang menjadi temannya bernama Monsieur de Grieux. Jenderal juga selalu ditemani wanita cantik pengejar harta yang penuh skandal bernama Madamoiselle Blanche. Jenderal jatuh hati padanya, sehingga dia berniat menikahinya sesudah Granny meninggal.

Alexey juga bertemu Mr. Astley, teman sang Jenderal, seorang bangsawan Inggris yang pemalu dan kaya-raya, yang sepertinya juga jatuh hati pada Polina. Meskipun begitu, Alexey sanagt terbuka terhadap Mr. Astley. Sedangkan Polina memperlakukan Alexey yang putus asa seperti budak, kadang hanya untuk permainan saja. Apabila Polina menyuruh Alexey loncat dari jembatan, dia bertekad akan sungguh-sungguh loncat. Tapi Polina hanya memberikan uang untuk Alexey untuk berjudi secara diam-diam. Alexey sudah dilarang berjudi oleh Jenderal mengingat dia adalah guru dari anak-anak Jenderal yang masih kecil.

Itulah perkenalan Alexey Ivanovitch dengan roulette. Alexey ternyata menang. Uang kemenangannya dia berikan ke Polina. Suatu saat, ketika mereka berdua sedang berjalan-jalan, Polina mempermainkan Alexey. Mereka bertemu dengan suami istri Baron (bangsawan Jerman) yang mereka kenal. Polina menantang Alexey untuk membuktikan cintanya, dengan melakukan tindakan konyol, menghina pasangan bangsawan itu. Alexey melakukannya, dan membuat pasangan Baron itu tersinggung. Mereka meminta kepada Jenderal agar Alexey sudi minta maaf. Alexey menolak, yang akhirnya membuatnya dipecat oleh Jenderal.

Ketika Alexey kebingungan karena dia berada di kota yang asing tanpa pekerjaan, Granny secara tiba-tiba dengan kursi roda muncul ke Rouletenberg. Dia mengenal Alexey, dan segera menyuruhnya untuk menjadi guide. Granny mendatangi Jenderal dan teman-temannya. Jenderal kaget luar biasa, mengingat dia tahu bahwa Granny sakit parah dan dia berharap Granny meninggal di Rusia. Granny dengan suara keras berbicara di depan Jenderal, de Grieux, dan Blanche bahwa Jenderal tak akan mendapat warisannya.

Granny benci sekali dengan Jenderal dan wataknya yang menginginkan hartanya. Granny memilih untuk ditemani Alexey untuk menemaninya berjalan-jalan di Roulettenberg. Entah mengapa Granny yang sudah tua tapi keras kepala minta Alexey menemaninya ke Casino. Awalnya Granny hanya menonton orang berjudi. Lama kelamaan dia tertarik untuk berjudi. Dia meminta Alexey mengajarinya berjudi. Granny berjudi dengan keras kepala, dimana dia hanya memasang pada satu nomor secara terus-menerus. Nasihat Alexey untuk lebih hati-hati tak didengarnya. Tak disangka, justru Granny menang besar. Granny makin menggila, memasang segala yang dia punya untuk menang lebih banyak lagi.

Ketika dimabuk kemenangan dengan memasang taruhan di satu nomor saja, Granny lengah. Seharusnya dia mengambil hasil kemenangannya dan pergi. Alih-alih, dia malah mempertaruhkan semua kemenangannya. Granny kalah. Seperti orang kalap, Granny ingin memenangkan kembali apa yang hilang dalam taruhan. Tapi bukannya kembali menang, Granny malah semakin banyak kehilangan uang. Jenderal semakin cemas Granny akan menghabiskan semua hartanya di meja judi sehingga nantinya tidak akan ada lagi harta warisan. Jenderal meminta Alexey menghentikan Granny. Granny tidak menyerah, dia terus menghabiskan uangnya. Akhirnya Granny benar-benar bankrut, tinggal uang untuk pulang ke Rusia yang dia punya. Granny kalah kira-kira 100 ribu rubel.

Kesehatan Granny semakin berkurang karena kekalahan di meja judi yang hanya sehari. Akhirnya dia pulang ke Rusia dengan patah hati, sambil berterima kasih pada Alexey yang telah mengajarinya main judi. Mengetahui Jenderal tidak akan mendapatkan apa-apa dari Granny, Madamoiselle Blanche meninggalkannya. Jenderal sekarang tidak berarti di matanya, dia mencari orang kaya lain untuk dihabiskan hartanya.

Sepulang mengantarkan Granny, Alexey mendapat kunjungan dari Polina. Polina mengungkapkan rahasia bahwa dia tidak bisa mencintai Alexey karena Polina terikat hutang dengan de Grieux. Mendengar hal ini, Alexey bergegas pergi ke Casino dan berjudi, dimana akhirnya dia menang lebih dari 200 ribu rubel dan menjadi orang kaya mendadak. Alexey yang kaya mendadak pulang ke rumah dan bertemu kembali dengan Polina. Ketika itu Polina malah mengungkapkan kalau dia berhubungan dengan Mr. Astley. Polina pergi terburu-buru dan tidak pernah kembali lagi.

Alexey, meskipun menjadi kaya mendadak, menjadi bimbang karena kehilangan pekerjaan dan kehilangan Polina. Pada saat itu, Madamoiselle Blanche, sudah putus dari Jenderal, mendekati Alexey. Blanche mengajaknya pergi ke Paris dan bersenang-senang. Alexey, merasa tidak punya tujuan hidup lagi, setuju untuk pergi bersama Blanche ke Paris dan tinggal bersama. Di Paris, Blanche menghabiskan harta hasil kemenangan Alexey dalam waktu hanya satu bulan saja.

Setelah hartanya habis, Alexey berpisah dengan Blanche. Alexey kemudian berjudi untuk bertahan hidup. Tapi dia tidak pernah menang lagi. Setiap dia mendapat uang, dia habiskan di meja judi. Ketika uangnya habis, dia melakukan pekerjaan kasar apa saja. Uang tidak seberapa yang didapatkan dari bekerja kasar itupun kemudian akan habis di meja judi lagi.

Di akhir cerita, di suatu kota di Jerman, Alexey yang hidup seperti orang jalanan kembali bertemu dengan Mr. Astley. Dia bercerita bahwa Polina sekarang tinggal di Swiss. Mr. Astley memberi sedikit uang kepada Alexey, tapi dia yakin sekali bahwa berapapun yang dia beri pasti akan berakhir di meja judi.

Novel ini adalah dongeng tentang bagaimana roulette menjadi sebuah agama. Semua orang akan gampang terpengaruh padanya, juga gampang menjadi bankrut olehnya, secara finasial maupun sosial. Misteri probabilitas yang menyandera kehidupan kita. Menurut Alexey Ivanovitch, tokoh utama dalam buku ini, Roulette adalah identitas rakyat Rusia. Pilihan antara kerja keras mengumpulkan modal seumur hidup atau menghabiskan uang secara ceroboh di meja judi untuk hidup untuk hari ini. Mungkin bukan hanya bangsa Rusia. Kita sendiri hidup tiap hari di negeri ini tanpa kepastian. Kita sendiri tiap hari sedang berjudi dengan harkat dan martabat kita, sehingga judi sebenarnya sangat dekat dengan nadi kehidupan kita.

Sebuah cerita fiktif yang sangat dalam. Dostoyevsky seperti duduk di sofa dan menjalani terapi psikologi ketika menuliskannya. Segala emosi dan pengingkaran diri terasa sangat nyata. Prosa yang mengalir elegan seperti suangai kecil yang akhirnya berujung ke jeram yang luas dan gemuruh. Sebuah buku yang berharga dari berbagai perspektif dimana kita melihatnya. Menurut saya, buku ini sebuah karya yang sempurna. Tanpa cela.

Rabu, 22 Desember 2010

The History Of Love - Nicole Krauss

Saya jarang membaca buku dua kali. Menurut saya, itu membuang-buang waktu, sementara banyak sekali buku yang ingin saya baca belum tersentuh. Salah satu buku yang saya baca dua kali adalah buku History of Love tulisan Nicole Krauss. Tentunya ada sesuatu yang istimewa dari buku ini hingga saya melanggar kebiasaan saya sendiri.

Saya teringat pertama kali membacanya tahun 2007, saya terganggu, dan mulai membuat puisi berratus-ratus kata setelahnya. Sekarang saya membacanya lagi karena sudah lupa isinya. Yang saya ingat, saya suka sekali buku ini. Setelah membacanya, saya buru-buru menuliskan kembali review dan plot dari buku ini. Inilah tujuan utama saya membuat website ini dari awal, menuliskan kembali apa yang pernah saya baca agar tidak lupa, sehingga saya tidak perlu membacanya kembali.

Pertama kali atau kedua kali baca, pendapat saya tetap: Nicole Krauss adalah orang yang sangat cerdas dan penulis yang sangat berbakat. Buku yang luar biasa ini ditulis ketika wanita ini berumur 31 tahun, usia emas untuk seorang sastrawan.

Buku ini menurut hemat saya adalah sebuah tribut untuk Kafka. Terlihat sekali pengaruh Franz Kafka dalam buku ini. Buku ini juga sebuah perayaan untuk penulisan sastra. Buku ini merayakan Kafka, Tolstoy, Bruno Schulz. Terlihat bahwa Krauss sangat menghormati Nicanor Parra, penyair, dengan beberapa kali menyebut namanya dalam buku ini. Krauss juga terpengaruh dengan Don Quixote-nya Cervantes, dengan beberapa kali menyebutkan namanya dan dalam badan cerita, buku ini mirip Don Quixote. Buku ini adalah cerita tentang sebuah cerita dalam sebuah buku berjudul The History of Love. Dalam buku Don Quixote, tokohnya, Quixano terlalu sering membaca buku yang seakan nyata.

Beberapa orang mungkin resisten terhadap buku ini, karena buku ini membahas tentang agama Yahudi dan bangsa Israel. Bahkan disana-sini terdapat dipakai abjad Ibrani (Hebrew). Penulisnya memang seorang Yahudi asli (seperti juga Franz Kafka dan Boris Pasternak), jadi sangat wajar kalau dia menulis tentang apa yang dia tahu. Menurut saya, unsur-unsur Yahudi dan bangsa Israel yang kental dalam buku ini tak lebih penting dari penggambaran tentang dekorasi sebuah ruangan. Buku ini tetap imajinatif secara universal, di luar batas-batas peradaban, agama, dan negara.

Buku ini adalah tentang perjalanan sebuah buku berjudul History of Love, dan penulisnya, seorang penulis berbakat tak terkenal bernama Leo Gursky. Tokoh pencerita dalam buku ini berpindah-pindah dengan sangat dinamis dan brilian. Pertama Leo Gursky sendiri. Kedua seorang gadis kecil yang tak ada hubungannya dengan Gursky, hanya saja dia dinamakan berdasarkan tokoh dalam buku tulisan Gursky, yaitu Alma. Ketiga adalah Zvi Litvinoff, teman masa kecil Gursky yang membawa pergi naskahnya ke Chile, dan tak pernah bertemu lagi sejak itu. Ada juga Bird, adik Alma yang suka berniat baik turut campur dalam urusan kakaknya dan orang lain, karena menganggap dirinya adalah seorang nabi Yahudi.

Gursky dalam buku ini diceritakan lahir di Slonim, Polandia. Dia gemar sekali mengarang, beberapa temannya ternyata diam-diam mengakui bakatnya ini. Sebagai kritikus yang membangun, adalah seorang Zvi Litvinoff, teman mudanya yang bekerja di surat kabar sebagai penulis obituari yang selalu menyarankan bagaimana seharusnya Gusky menulis. Gursky menjalin hubungan percintaan dengan seorang gadis bernama Alma. Sebagai memoar atas rasa cintanya ke Alma, dia menulis sebuah buku berjudul Sejarah Cinta (The History of Love).

Buku itu belum sempat diberikan kepada Alma, ketika Alma dibawa pergi oleh ayahnya ke Amerika. Alma tidak sempat memberitahu Leo Gursky bahwa percintaan terakhir mereka telah berbuah janin dalam perutnya. Tak lama kemudian pecah perang dunia kedua. Nazi merangsek maju ke Polandia. Zvi Litvinoff melarikan diri ke Amerika Selatan dengan membawa naskah Sejarah Cinta yang ditipkan Gursky padanya. Sementara itu, Gursky menghundari pembantaian orang Yahudi, melarikan diri dan bersembunyi selama bertahun-tahun di hutan.

Setelah perang selesai. Gursky pergi ke Amerika menjemput Alma, yang ternyata tidak kesampaian karena Alma sudah menikah dengan orang lain. Anak dari Gursky, bernama Isaac, dipelihara oleh bapak tirinya, dan belakangan juga menjadi penulis yang dihormati. Isaac tak pernah tahu ayah aslinya. Patah hati, Gursky memutuskan untuk tidak pernah lagi jatuh cinta dengan orang lain. Dia tinggal di Amerika seorang diri, sembari terus mengawasi anaknya diam-diam, dan mengoleksi buku-buku tulisan anaknya. Ketika usianya semakin tua di Amerika, Gursky bertemu teman masa muda lainnya yang juga penulis berbakat bernama Bruno. Bruno sudah cukup lama tinggal di Amerika, dan ketika istrinya meninggal, dia pindah ke gedung apartemen Gursky. Sejak itu mereka menjadi sahabat dan tetangga yang saling menyemangati untuk terus menulis.

Sementara Zvi Litvinoff akhirnya menetap di Chile, dengan bekerja sebagai buruh, pegawai apotik, sampai belakangan seorang guru. Zvi bermimpi menjadi penulis, tapi dia tak kunjung menghasilkan karya yang bagus. Dia berkenalan dengan Rosa, seorang gadis muda yang tertarik akan intektualitas Zvi yang fasih membahas puisi dan karya sastra. Keduanya akhirnya menikah. Karena merasa tidak percaya diri, Zvi yang merasa tua dan miskin berusaha untuk menulis sebuah buku. Tapi karena tidak berbakat, dia menjiplak karya Gursky, menerjemahkannya ke dalam bahasa Spanyol, kemudian membawanya ke penerbit. Buku Sejarah Cinta akhirnya diterbitkan dalam bahasa Spanyol dengan nama Litvinoff sebagai pengarangnya tanpa diketahui Gursky.

Dalam sebuah tapestry fiksi yang nyaman dan menarik, cerita bergulir sampai akhirnya Gursky mendapatkan kembali naskah Sejarah Cinta. Masing-masing pencerita mempunyai plot suspense sendiri dan unik tiap karakter, baik dalam diksi maupun perspektif. Seperti sidik jari yang rumit dan unik, Krauss harus menggambarkan sidik jari untuk banyak orang.

Leo Gursky adalah orang yang imajinasinya berlebih tanpa mampu dikeluarkan. Dia hidup sendiri sampai tua. Bahkan ketika kekasihnya Alma mati, dia tetap hidup sendiri. Bahkan ketika anaknya Isaac mati, dia tetap hidup sendiri. Ini adalah orang yang luar biasa kesepian. Orang yang sangat kelelahan. Dia sudah mengalami terlalu banyak dalam hidupnya, sampai akhirnya kehilangan batas realitas maupun fiksi. Leo terlihat begitu kesepian sampai temannya adalah suara nuraninya sendiri. Orang yang sendiri dan kesepian tidak bisa tidak selalu berpikir tentang kematian dalam segala cara. Itu juga yang ada di benak Gursky.

Dia tidak ingin mati dalam kesendirian. Dia tahu waktunya semakin dekat. Untuk itu dia selalu menjadi pembuat onar, sekedar mencari perhatian di depan umum, agar dia bisa mati di tempat dia terlihat orang. Gursky menjadi model telanjang untuk para pelukis, agar dia berada di sekeliling orang yang melihatnya. Dia sering berpikir, siapa yang akan terakhir melihatnya hidup. Apakah tukang antar masakan Cina? Ataukan dia mati sendirian di dalam apartemennya sampai tiga hari kemudian baru ditemukan, seperti salah seorang tetangganya? Satu hal yang Leo Gursky lebih khawatir adalah bila pikiran dan imajinasinya mati. Dia penulis yang hebat karena dia bermain-main dengan imajinasinya. Kadang tidak ada batas antara realitas dan imajinasi. Bahkan kadang saya mempunyai kesan bahwa Bruno, sahabat dan tetangganya yang sama-sama tua, adalah tokoh imajinernya sendiri.

Bruno dalam buku ini, meskipun hanya sebagai background, mempunyai peran yang sangat vital. Perlu dicatat, dalam sebuah surat dimana secara implisit Bruno memakai samaran "Jacob Marcus", dia bercerita bahwa dia gemar membaca buku Street of Crocodiles. Street of Crocodiles adalah sebuah karya kumpulan cerpen yang cemerlang dari seorang Yahudi yang pendek umurnya dan mati mengenaskan bernama Bruno Schulz. Imajinasi liar kita bisa berkembang, bahwa Bruni teman Leo adalah Bruno Schulz yang lepas dari jeratan maut dan hidup anonim. Tapi ini imajinasi liar saya, Anda tidak perlu mengikutinya, juga tak perlu berusaha untuk membenarkannya.

Leo Gursky digambarkan sebagai seorang penulis cemerlang yang anonim. Dia telah menulis buku Sejarah Cinta dengan dalam. Disinilah kekuatan Nicole Krauss. Dia menulis buku tentang seseorang tua renta bernama Gursky. Sekaligus juga dia berperan sebagai Gursky untuk menulis masterpiece imajiner berjudul Sejarah Cinta. Krauss seakan menulis dua buku. Dan jika pembaca percaya bahwa Gursky adalah penulis yang hebat, tentunya Krauss jauh lebih hebat, karena dia menciptakan Gursky, dan menulis karya hebat untuk tokoh ciptaannya itu.

Saya sempat terkecoh dengan judulnya. Saya pikir buku dengan judul The History of Love terdengar cukup melankolis. Seperti chicklit yang ringan ber-haha-hihi. Kalau boleh jujur, seorang pengarang pria biasanya akan menghindari menulis buku berjudul The History of Love. Tapi ternyata isinya sangat dalam, sangat berbobot. Buku ini (atau kedua buku ini) ditulis dengan cara yang luar biasa.

Senin, 06 Desember 2010

Anna Karenina - Leo Tolstoy

Saya beruntung punya keluarga kutu buku. Suatu saat ketika saya berada di toko buku bersama istri, saya menunjuk buku Anna Karenina karangan Leo Tolstoy sebagai buku yang ingin saya baca sejak lama. Istri saya malah menaruh kembali buku itu ke rak. Dia bilang saya tidak perlu beli karena di rumah sudah ada.

Sesampainya di rumah, istri saya mulai membongkar-bongkar lemari tua milik mertua saya. Ternyata memang benar dia menemukan buku bekas Anna Karenina milik mertua saya yang sudah lapuk dan menguning. Buku itu terdiri dari 4 jilid, sudah apak dan saya harus sangat hati-hati membalik-balik halamannya karena beberapa kali saya tak sengaja merobeknya. Dalam hati saya bilang, oke, memang Tolstoy adalah penulis tua, dan buku ini ditulis lebih dari seabad yang lalu, tapi kan tidak perlu didramatisir dengan buku yang luntur dan lapuk seperti ini?

Tapi saya memang terlanjur cinta pada buku bekas. Akhirnya buku ini saya bawa kemana-mana sesuai aktifitas saya. Ketika di kereta listrik, saya selalu membuka-bukanya dan menyempatkan membaca beberapa halaman. Beberapa orang yang saya temui menanyakan apakah bukunya sudah 100 tahun. Yang lain menanyakan apakah saya sedang membaca kitab kuning. Ada juga yang bertanya apakah itu buku stensilan.

Buku yang rapuh ini terbitan Indira, cetakan pertama tahun 1985 (Anda lihat, umurnya masih muda, belum ada 100 tahun). ISBN pun belum ada. Yang aneh, model sampulnya adalah aktris lawas Dana Christina (kadang saya teringat film Jaka Sembung bila melihat wajah Dana Christina). Perlu dicatat, buku ini adalah terjemahan yang berani langsung dari bahasa Rusia. Penerjemahnya adalah Koesalah Soebagio Toer, adik sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

Terus terang, terjemahan buku ini sulit sekali dibaca. Menurut saya, ada beberapa hal yang menyebabkannya. Antara lain, Rusia adalah bangsa yang rumit dengan bahasa yang rumit pula. Penerjemahan kontekstual seringkali susah dilakukan karena perbedaan konsep dan cara berpikir. Yang kedua, teks ini terbit pertama kali 1878, artinya teks yang sudah cukup tua. Cara berpikir orang kuno berbeda dengan cara berpikir orang sekarang. Itu yang menyebabkan kadang tidak mengenanya referensi kata-kata, mungkin karena adanya jurang referensi. Tambahan lagi, proses editing yang buruk yang semakin menyulitkan. Pada tahun 1985, pasti komputer pengolah kata belum populer. Semuanya mungkin dilakukan secara manual, sehingga banyak kesalahan yang membingungkan. Kemungkinan besar editor mengolah teks dari penerjemah dalam tulisan tangan, siapa tahu? Salah satu kebiasaan aneh Koesalah dalam menerjemahkan buku ini adalah memakai kata "Ya Allah!" atau "Masya Allah!", seakan-akan Rusia saat itu adalah negara muslim.

Buku ini adalah buku yang susah untuk dibaca bagi saya. Semoga edisi mutakhir yang ada sekarang tidak sesulit ini. Saya memilih cara yang susah untuk "belajar" tentang Tolstoy, saya akui. Tapi biarlah. Seingat saya, tak pernah dengan mudah saya mencerna sastra Rusia. Saya ingat membaca Dostoyevsky dan Chekov dan menemui masalah yang sama.

Rusia memiliki kebudayaan yang rumit, dan mereka mencintai kerumitan itu. Mereka terkenal sebagai penyumbang kerumitan pemikiran di dunia, bahkan sampai sekarang pun mereka susah untuk dipahami. Dalam novel Tolstoy ini digambarkan bahwa masyarakat Rusia menyukai debat. Bahkan mereka meluangkan waktu santai mereka untuk berdebat, sehingga boleh dikatakan debat menjadi rekreasi. Mereka mempunyai kecenderungan untuk idealis dan kadang senang berada di garis keras. Mereka juga merasa minder dengan budaya Eropa yang lain, sehingga orang Rusia sering memakai bahasa Inggris dan (terutama) Perancis yang mereka anggap lebih mulia dari bahasanya sendiri. Rusia pra Sovyet merupakan masyarakat yang sangat berlapis-lapis dengan tingkatan sosial yang sangat rumit, akibat aristokrasi yang seperti gurita. Termasuk Tolstoy, dia juga suka ber-"rumit-rumit". Tapi dia sendiri sebenarnya menggambarkan kondisi sosial yang memang sudah rumit, sehingga pembaca akan mendapatkan gambaran besar. Salah satu contoh kerumitan yang dipakai Tolstoy adalah penggunaan nama alias untuk tokoh-tokohnya yang kadang lebih dari 3 nama. Anna Karenina adalah tokoh protagonis yang sebenarnya bernama Anna Arkadyevna. Dia bersuamikan Aleksei Aleksandrovic Karenin, sehingga dia disebut sebagai Anna Karenina. Anna jatuh cinta pada Vronskii. Anna punya kakak yang bernama Stepan Arkadic yang mempunyai nama keluarga Oblonskii, yang biasa dipanggil dengan nama Stiva. Stiva mempunyai istri bernama Dolly, yang nama aslinya adalah Darya Aleksandrovna, yang karena menikah dengan keluarga Oblonskii, menjadi menyandang nama Oblonskaya. Teman Stiva yang bernama Levin, memiliki nama asli Dimitri Levin, dimana dia dipanggil Konstantin oleh para pekerjanya, dan mempunyai alias sebagai Kostya. Tolstoy bahkan masih menantang kerumitan itu, seakan dia merasa masih belum cukup tantangan yang dia hadapi. Dia memberikan nama panggilan sama untuk suami dan kekasih gelap Anna, yaitu sama-sama Aleksei. Tolstoy adalah tipikal orang Rusia yang pemberani.

Bukunya sangat tebal, karena tadinya novel ini ditulis sebagai cerita bersambung di majalah. Plotnya sebenarnya simpel, tapi sangat panjang. Kisah yang ditutrkan disini adalah mengenai kehidupan aristokrasi di Rusia yang rumit, bertingkat, dan penuh hipokrasi. Dalam buku ini dikisahkan tokoh paralel, yaitu Anna Karenina dan Konstantin Levin. Anna Karenina adalah seorang wanita cantik dan sangat berkharisma, istri dari Aleksei Aleksandrovic, yang mempunyai seorang anak laki-laki di St. Petersburg. Suatu saat dia mendengar bahwa perkawinan saudaranya Stiva dengan Dolly sedang terancam karena kegemaran Stiva berselingkuh. Dolly ingin bercerai dari Stiva. Akhirnya Anna mengunjungi mereka di Moskow, dengan tujuan untuk mendamaikan mereka.

Pada saat yang bersamaan, Levin, teman lama dari Stiva, juga berkunjung ke Moskow dengan tujuan untuk melamar adik dari Dolly, Katerina Aleksandrovna dari keluarga Scerbatskii, yang lebih sering dipanggil Kitty (nama Inggris, seperti kakaknya "Dolly"). Yang tak diketahui Levin adalah bahwa hari itu akan diadakan pesta dansa dan pertunangan Kitty dengan seorang perwira muda tampan bernama Vronskii. Karena Kitty sudah memilih Vronskii, lamaran Levin ditolak. Levin sakit hati sehingga dia kembali ke desanya dan menyibukkan diri dengan pertaniannya, meskipun telah dibujuk Stiva untuk hadir dalam pesta dansa. Stiva, mendengar kakaknya berniat datang, menjemput Anna di stasiun kereta. Stiva bertemu dengan Vronskii di stasiun yang menjemput ibunya untuk hadir dalam pesta dansa. Di stasiun itulah Vronskii bertemu dengan Anna untuk pertama kali dan jatuh cinta. Anna yang berhasil mendamaikan Dolly dan Stiva, diundang ke pesta dansa.

Di pesta dansa, Kitty justru diabaikan oleh oleh Vronskii. Vronskii mengejar Anna Karenina mati-matian. Kitty patah hati oleh perilaku Vronskii, dan seketika itu jatuh sakit. Ketika Anna pulang ke St. Petersburg, Vronskii menumpang kereta yang sama membuntuti Anna. Ketika Anna disambut suaminya di St. Petersburg, Vronskii secara berani muncul memperkenalkan diri. Aleksei Aleksandrovic tidak suka dengan kekurangajaran Vronskii. Vronskii terus-menerus mengejar Anna, terutama melalu perantaraan masyarakat sosialita aristokrat St. Petersburg. Anna akhirnya bertekuk lutut di depan remaja tampan yang mempunyai karir cemerlang itu. Hasil hubungan gelap itu adalah Anna mengandung anak Vronskii. Anna akhirnya mengaku percintaannya dengan Vronskii kepada suaminya, dan memintanya untuk menceraikannya. Suami Anna menolak, dan ini membuat Vronskii makin tidak punya harapan untuk melanjutkan hubungannya. Dia merasa tertekan dan menembak dirinya sendiri. Beruntung, Vronskii tidak mati.

Ketika anak Anna yang kedua lahir, Anna dan Vronskii kemudian melarikan diri. Pertama ke Italia, terus kembali ke St. Petersburg, kemudian menyepi di desa. Sementara di pedesaan, Stiva kembali menjodohkan Levin dengan Kitty. Keduanya akhirnya berbaikan dan menikah dengan bahagia. Kitty belakangan melahirkan seorang anak dari Levin.

Sementara Anna dan Vronskii jauh dari bahagia. Anna belum bercerai, sehingga dia merasa menjadi sampah masyarakat dengan menjadi kekasih Vronskii. Dia tidak bisa bertemu anak pertama yang dicintainya karena dilarang oleh suaminya. Sedangkan anak keduanya yang juga bernama Anna dari Vronskii, dia tidak bisa mencintai. Vronskii terpaksa keluar dari militer, dia juga terbelit utang. Anna semakin frustrasi dan menjadi sangat pencemburu. Mereka bertengkar di setiap kesempatan, kebanyakan hanya karena prasangka, atau juga ketidakpuasan akan hidup yang mereka jalani. Anna menjadio paranoid, kehilangan kehidupan lamanya, sekaligus ketakutan kehilangan Vronskii. Pada suatu kesempatan, dimana otaknya dipenuhi pikiran-pikiran buruk tentang Vronskii, dia melompat ke depan kereta api yang sedang berjalan. Anna mati dengan tragis.

Tolstoy menggunakan teknik penceritaan yangbaru pada masa itu, yaitu metode "stream of conciousness". Teknik ini sering disebut sebagai monolog, karena kita mendengar sang tokoh berpikir dalam kepalanya. Teknik ini sekarang memang tidak baru lagi, kita sering melihat di sinetron-sinetron murahan, tokohnya berbicara dengan dirinya sendiri. Misalkan, seorang tokoh dalam sinetron tiba-tiba berbicara dengan dirinya sendiri, "Aku benci sama si Fitri! Dasar pembohong! Aku akan membunuh dia!" Teknik ini memang terkesan murahan dipakai di televisi, tapi kita dapat mendengar pikiran terdalam dan pergulatan pemikiran dari sang tokoh. Dalam film, monolog itu tidak realistis karena jarang sekali ada orang ngomong dengan dirinya sendiri.

Tolstoy sangat piawai memakai teknik ini. Pergulatan pemikiran tokohnya digambarkan sangat deras, sehingga kita tercekat ketika Anna memutuskan untuk bunuh diri. Dalam buku ini kita bisa mengikuti bagaimana pikiran seseorang yang tertekan dan akan membunuh dirinya. Ini bukti bahwa Leo Tolstoy adalah seorang psikolog yang natural. Dia juga mengungkapkan pikiran-pikirannya sendiri melalui perglatan pemikiran Levin. Levin adalah penggambaran dari diri Tolstoy sendiri. Panggilan kecil Tolstoy sendiri adalah Lev. Levin adalah tokoh yang idealis, keras kepala, pencemburu, tapi jernih memandang segala hal. Dalam buku ini kita bisa memetakan pemikiran Tolstoy dengan mendengarkan kata hati Levin, antara lain mengenai sosialisme, aristokrasi, budaya dan tradisi, modernisme, nasionalisme dan humanisme.

Banyak orang salah mengartikan novel Tolstoy ini menurut saya. Anna Karenina sering disalahpahami. Apabila Anda mengharapkan sebuah kisah cinta klasik yang romantis seperti Romeo dan Juliet atau Sam Pek Engtay, Anda salah besar. Novel ini menggambarkan cinta yang begitu dalam, saking dalamnya sampai begitu kotor. Buku ini menceritakan tentang hipokrisi kaum bangsawan yang menolak cinta tapi mengagungkan nafsu. Anna Karenina begitu mencintai seseorang sampai menusuk tulang. Cintanya sangat tulus. Tapi dirinya dianggap begitu kotor di masyarakat. Dia sendiripun menganggap dirinya kotor, hanya karena dia jatuh cinta.

Suaminya tidak akan memaafkannya. Dia kehilangan anaknya. Dia mencintai Vronskii begitu dalam, dengan mengorbankan segalanya. Tapi Vronskii adalah orang yang tidak layak dicintai, menurut saya. Vronskii mempermainkan Kitty. Vronskii juga bukan perwira militer yang tekun. Dia senang berpesta, kemudian akhirnya keluar dari ketentaraan. Dia sangat mengandalkan uang dari ibunya yang kaya untuk hidup sehari-hari. Di bagian akhir, dia malah menunjukkan sifat pengecutnya, dengan berpikir bahwa dia membuat kesalahan dengan menjalin hubungan dengan Anna. Kisah cinta sejati yang romantis justru bukan antara Anna dan Vronskii. Kita dapat menemui kisah cinta romantis antara Kitty dan Levin. Novel ini menurut banyak sastrawan adalah novel terbaik. Novel ini mempengaruhi penulis-penulis seperti Dostoyevsky, Woolf, Faulkner, dan lain-lain. Menurut saya, novel ini sangat berharga. Buku yang berlapis-lapis, kaya di segala dimensi.